Pages

Blink 182

Masi menunggu kehadiran mereka di Indonesia, I Hope..

I Made nanoe Biroe

Musisi Bali yang inspiratif

Bali

Is Still Charming but have many internal problem

Friday, November 29, 2013

Ada istilah : Anak Karbitan


Beberapa hari yang lalu saya iseng membaca sebuah artikel tentang perkembangan anak yang lebih cepat dari proses semestinya. Yang saya tangkap belakangan ini, para orang tua jaman sekarang menjadikan anaknya sebagai objek ambisi orang tua. Di usia sangat dini anak sudah sibuk dengan les musik les bahasa inggris les kumon.. Kemampuan mereka memang akan berkembang pesat, tapi para orang tua lupa, anak kodratnya adalah bermain :D

Tidak bisa dipungkiri, orang tua mana sih yang tidak mau memberikan semua hal yang terbaik buat anak kesayangannya, hanya terkadang cara-cara mereka salah, ada baiknya kita pertimbangkan lagi. Sebenarnya tidak ada yang lebih baik untuk anak selain perhatian langsung dari orang tuanya, bagaimana orang tua tersebut secara langsung mendidik si anak.

Saya akan uraikan (kopas.red) tersebut disini, bisa menjadi sebuah pertimbangan bagaimana kita dalam mendidik anak-anak kita nanti.



 Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun la menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga.

Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu.

Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.

“Early Ripe, early Rot…!”

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development”.

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness ” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child I’M NOBODY’S CHILD I’M nobody’s child I’m nobodys child Just like a flower I’m growing wild No mommies kisses and no daddy’s smile Nobody’s louch me I’m nobody’s child.

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood”. Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.



ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva “be special ” daripada “be average or normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to excel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak super—”SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

 


BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “mis-education” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

 


Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)

Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

 


College Degree Parents — (ORTU INTELEK )
 
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids “, apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

 

Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS )
 
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.

Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas. Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “superkid” –seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

 


Do-it Yourself Parents
 
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” –earlier is better”. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

 


Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID)
 
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids”. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

 

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
 
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson.

 


Encounter Group Parents–( ORTU NGERUMPI )
 
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.

Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-­anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

 


Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
 
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar.

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)

 


Perspektif sekolah yang mengkarbit anak
 
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.

Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah? dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk….

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire,1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah….

 


Mengkompetensi Anak— merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN”
 
Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab. “(Nature versus Nurture) bagaimana ?” Karena ada dua pengertian kompetensi. kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Di mana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey.”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!. Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan -”curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan!. “Empty Sacks will never stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Di mana mereka mendidik anak menjadi “good and smart ” terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “.

Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik ….

 
Penutup
 
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.


Artikel  ini diambil dari : rumahinspirasi.com
Dan tulisan ini ditulis oleh Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.




Sebuah tulisan yang menarik, teman-teman bisa menilai diri sendiri, orang tua seperti apa, atau akan menjadi seperti orang tua yang bagaimana untuk anak-anak nantinya.
 
 
Semoga bermanfaat.
Salam :)


Tips berbelanja online yang aman

Jaman sekarang belanja online sudah menjadi hal yang trend, trend dalam artian sudah banyak pengguna internet yang lebih memilih transaksi online, karena simple, dengan tinggal klak klik, lihat, deal, bayar, tunggu barang sampai. Banyak barang yang bisa kita cari di internet, barang yang sulit kita temukan di kota kita, bisa kita temukan di kota lain dengan menggunakan jasa kurir.

Tapi dibalik mudahnya bertransaksi internet anda juga harus waspada, kasus penipuan banyak terjadi di internet. Bahkan penipuan di internet bukan hanya dilakukan oleh satu orang, tapi sudah merupakan sindikat yang memang benar-bernar berniat untuk menipu. Karena belanja online memiliki aturan buyer mentransferkan uang terlebih dahulu ke seller, setelah uang masuk, baru barang dikirimkan, hal ini lah yang dimanfaatkan oleh para penipu.

Saya salah satu yang sudah beberapa kali melakukan transaksi online, baik sebagai buyer maupun seller. Kaskus merupakan salah satu situs yang sangat familiar bagi saya, dari sanalah saya mulai berforum hingga melakukan aktifitas belanja online melaui fitur FJB-nya. Banyak transaksi yang terjadi di FJB Kaskus tiap harinya. Sampai saat ini FJB Kaskus merupakan website favorit saya dalam berbelanaj online, walaupun tidak menutup kemungkinan penipuan masih banyak terjadi disana.

Nah kali ini saya ingin memberikan tips buat teman-teman apabila masi awam untuk berbelanja online. Banyak situs yang menjadi seller online, tapi hati-hati, tidak semuanya benar menjual barang, bisa jadi beberapa diantaranya, niar membuat suatu website hanya untuk menipu.

Beberapa tips dari saya diantaranya :

1. Periksa dan pelajari website seller.

Jika anda menginginkan sebuah barang yang ingin di beli, silahkan cari di google, nanti google akan menampilkan banyak pilihan. Cek lah satu-satu website yang menjual barang yang anda inginkan, jangan terburu-buru dalam memutuskan membeli barang pada suatu website apabila anda tertarik dengan barangnya. Periksalah isi dari website tersebut, googling kembali mengenai website tersebut, apakah di google ditemukan jejak transaksi yang tidak beres didalamnya. Jika ada pilihan, pilihlah website yang benar-benar sudah memiliki nama di dunia belanja online, seperti Bhineka.com, Bibli.com, zalora.com, ataupun yang lain. Jangan malas untuk mengecek kebenaran suatu website.



2. Jangan selalu percaya dengan kesaksian.

Dalam website seller biasanya terdapat kesaksian pelanggan (testimonial), testimonial tersebut merupakan sebuah bukti bahwa jualan benar-benar terjadi, dan pembeli biasanya merasa puas. Tapi tetap waspada, kembali ke poin no.1,  jangan terlalu yakin dengan adanya testimonial, dalam website tersendiri, testimonial bisa direkayasa. Beda dengan FJB Kaskus, biasnya testimonial banyak dari buyer yang sudah pernah bertransaksi dengan seller,  seller tidak bisa merekayasa post testimonial, kecuali seller berniat jahat menggunakan ID lain untuk membuat testimonial palsu. Cek satu persati thread lapak seller di FJB Kaskus, apakah tidak ada masalah. 
Jadi Testimonial bukanlah sebuah jaminan website tersebut aman. 


3. Usahakan Cash On Delivery (COD)

Cash On Delivery itu artinya ketemu langsung, uang baru dibayar setelah barang dilihat dan diterima langsung, periksalah barang saat ketemu seller, apakah sesuai dengan apa yang diiklankan. Apabila Seller tidak mau ketemu langsung, walaupun jarang seller dengan buyer tidak begitu jauh, ini bisa menjadi pertimbangan. Tapi tidak semua seller yang tidak mau COD adalah penipu. Tapi bagi saya, untuk transaksi dengan uang yang cukup besar, usahakan mencari seller yang mau COD, agar lebih aman dan nyaman dalam bertransaksi.


4. Jangan tergoda harga murah

Banyak penipu mengiklankan barangnya jauh lebih murah dari harga aslinya, misalnya handphone yang seharga 5 juta, dijual hanya 2 juta, hanya karen mengira itu adalah barang blackmarket. Berhati-hatilah dengan seller yang menawarkan harga jauh lebih murah.


5. Gunakanlah jasa rekening bersama


Rekening bersama adalah sebuah jasa yang ditawarkan sebagai penengah/pihak ketiga antara seller dan buyer, seller mentransfer ke Rekening Bersama terlebih dahulu, setelah itu seller akan mengirimkan barang ke buyer, setelah buyer menerima barang sesuai dengan pesanan, barulah Rekening Bersama tersebut mentransfer uang ke seller. Lebih aman dibandingkan langsung mentransferkan uang ke seller. Tapi tetap waspada, pilihlah jasa rekening bersama yang telah terpecaya, jangan malas untuk googling untuk mencari informasi nama jasa rekening bersama tersebut.
Beberapa kondisi, ada seller yang gak mau menggunakan Rekening bersama, ini juga bisa perlu dipertimbangkan, seller jujur biasanya sih selalu siap menggunakan rekening bersama.



Sekian tips dari saya, hati-hati lah dalam bertransaksi, pintar-pintarlah memilih seller, jangan terburu nafsu membayar, dan jangan malas mencari informasi di google tentang seller yang menjual barang yang anda inginkan..



Semoga tips ini bermanfaat..

Salam :)

Satua Bali, dongeng anak-anak yang ditinggalkan



Hari minggu pagi, terbangun dari tidur, biasanya saya lihat banyak tayangan TV yang menyuguhkan film kartun untuk anak-anak. Tapi sekarang pagi-pagi buta sudah banyak tayangan musik alay-alay yang aduh.. ga banget...  Sesaat terpintas dipikiran, jaman dulu saya masi kecil, dimana dirumah hanya ada TV hitam putih dan hanya ada stasiun TVRI saja, hiburan anak-anak saat itu masi tergolong sedikit, misalpun ada film anak-anak jaman itu, biasanya ditonton dari vido beta, pemiliknya pun bisa dibilang jarang dilingkungan saya. Tapi untuk mendapatkan sebuah cerita dan pelajaran ternyata tidak hanya dari televisi. Ibu saya selalu mendongengkan saya cerita dongeng anak-anak. Karena saya di Bali, saya selalu didongengkan cerita-cerita Bali, yaitu Satua Bali. Ibu saat itu ga perlu memegang buku untuk menceritakan sebuah dongeng, karena ceritanya sudah di luar kepala, mungkin hanya diimprovisasi, tapi tidak meninggalkan pesan yang tertanam dalam dongeng tersebut.

Waktu kecil mungkin saya tidak mengerti pesan apa yang ditanam dalam sebuah dongeng, yang ditangkap di kepala waktu saya kecil hanya sebuah jalan cerita, ternyata anak kecil bisa menangkap pesan di alam bawah sadar, pesan pesan positif dalam sebuah dongeng bisa tertanam langsung dengan seringnya Ibu mendengarkan sebuah dongeng sebelum tidur. 

Di jaman saat ini, dengan banyak acara televisi yang sulit dikontrol, anak-anak kecil yang tidak terawasi bisa saja banyak mengkonsumsi acara telvisi yang seharusnya tidak layak untuk merika nikmati. 

Saya iseng browsing mencari satua-satu Bali yang mungkin tersisa di internet, syukurlah saya temukan beberapa blog yang menulis banyak cerita satua Bali. Setidaknya cerita-cerita ini bisa saya simpan buat anak saya kelak.

Sekarang saya mau nostalgia sejenak, saya akan mengutip, tepatnya mengopas, beberapa satu Bali dari beberapa Blog yang sudah tidak asing di telinga saya. Yang paling saya ingat, diawal cerita, Ibu selalu memulai dengan "Ada ketuturan satua"  Hahaha... :D

1. I Ketimun Mas

Ada katuturan satua ane malu. Anak luh balu ngelah pianak luh adiri. Adanina I Ketimun Mas. Ia mumah di tanggun desane, desa Dauh Yeh, paek teken alas.

Kacerita jani sedek semengan, memenne bakal luas ka peken. Mabesen ia teken panakne, kene, “Cening, cening Ketimun Mas, meme bakal luas ka peken. Nyai ngijeng jumah, nyanan gapgapina laklak. Jumahan meten nyai nongos, kancing men jlanane. Yening ada anak kauk-kauk tidong meme, da pesan ampakina!”

Kacerita kone jani I Ketimun Mas, nongos jumahan meten makancing jlanan. Saget teka I Raksasa kauk-kauk, munyinne gede tur garo, “Cening , cening Ketimun Mas, meme teka, ampakin meme jlanan!” Pedasange baan I Ketimun Mas. “Ne, nyen ya ngelah munyinne? Nguda gede tur garo? Bah, tidong i meme.” Keto kenehne I Ketimun Mas. I Raksasa tusing ampakina jlanan. Mulih lantas I Raksasa.

Kacerita jani teka memenne. Ampakina lantas jlanan, kriut gedebleg. Morahan I Ketimun Mas, “Meme, ibusan ada anak kauk-kauk. Munyinne gede tur garo. Beh, jejeh pesan keneh tiange. Tusing bani tiang ngampakin jlanan.” Memenne kendel kenehne. I Ketimun Mas gapgapina laklak atekor. Tur lantas ngomong, “Katawang ento ane kauk-kauk i tunian? I Raksasa ento. Yen ento ampakin, pedas cening plaibange.”

Buin manine, buin memenne ka peken. Makire majalan, memenne mabesen, “Cening, cening, meme lakar ka peken. Jumah meten ngijeng, kancing jlanane. Ingetang munyin memene ibi. Yening tusing meme ane mekaukan, da pesan ampakina jlanan!”

Kacerita jani I Raksasa, lakar buin kumahne I Ketimun Mas. Di jalan nepukin ia anak ngangon bebek. Paekina pangangon ento, awakne ngetor pesu peluh baan jejehne. Ngomong I Raksasa, “Ih, jero pengangon bebek, jalan kema kumahne I Ketimun Mas. Nyanan lamun tusing jumah memenne, kauikin I Ketimun Mas!” Masaut i pangangon, “Mindah, bebek tiange tusing ada nongosin.” Galak i Raksasa, “ Yen tusing nyak, ia tendasne kamah. Basang awake seduk.” Mara keto abetne I Raksasa, nyak lantas i pengangon bebek.

Dapetange umahne I Ketimun Mas suung. Ngomong I Raksasa teken i pangangon, “Nah, kema kaukin I Ketimun Mas. Ia jumahan meten makancing jlanan. Jangihang munyine, cara munyin memenne!”

“Cening, cening Ketimun Mas. Ampakin ja meme jlanan!” Apa, kendel I Ketimun Mas. Kadena saja memenne teka. Kriut gedebleg, jlanane kaampakang. Saget saupa I Ketimun Mas, plaibanga baan I Raksasa. Beh, jerit-jerit I Ketimun Mas ngeling.

Gelisang satua, neked I Raksasa jumahne. Tekepina I Ketimun Mas aji grobag, tetehina aji lesing batu. I Raksasa ngelah juru ijeng dadua. Ne adiri buta, ane lenan bongol. Ngomong I Raksasa, “ Buta, Bongol! Eda luas kema-mai! Awake lakar ngalih bakal basa akejep.” Ngarod I Ketimun Mas ngeling, di tengah grobage mateteh lesung.

Jani kacerita memenne I Ketimun Mas, mara teka uli di peken. Dapetange umahne suung jlanan ampikne mampakan. Pianakne tusing ada. Gelar-gelur ia makaukan. Tusing ada ane masaut. Ngeling lantas memenne I Ketimun Mas, tur mapineh. “Pedas I Ketimun Mas plaibanga baan I Raksasa. Kenkenang jani baan madaya?”

Lantas ada kone meong teken bikul, kema maekin memenne I Ketimun Mas. Men Ketimun Mas ngomong, “Nah, ne apa Sang Meong ajaka Sang Bikul. Nyak ngalih I Ketimun Mas? Ia plaibanga baan I Raksasa. Yen teka baan iba I Ketimun Mas, upahina be bajo asok teken padi abodag.”

Nyak lantas I Meong teken I Bikul, majalan ajaka dadua kumahne I Raksasa. Tepukina I Ketimun Mas matangkeb. Tongosina baan I Buta teken I Bongol. I Raksasa sedekan di paon, repot munduhang bakal basa.

Kacerita pongponga grobage ban I Bikul. I Meong nyongkok duur grobage ngantiang. Krepet-krepet ngenyonyong, kriet-kriet kepungpung. Dingeha kriet-kriet teken I Buta, “Apa sih krepet-krepet ditu?” “Ngeong!” keto munyin meonge. “Sep, apa sih gesgesa meonge ditu?” Keto I Buta. Ngomong I Bongol, “Ada meong duur grobage.” “Ulahang meonge, Bongol!” Mendep I Bongol, wireh ia mula tusing ningeh. Kanti linggah song grobage, pongponga baan I Bikul.

Suba ada asedengan jlema, pesu lantas I Ketimun Mas. Ateha mulihne baan I Meong teken I Bikul. Neked jumahne, nyagjang memenne, kendel pesan kenehne. “Dewa Ratu, cening Ketimun Mas. Mara teka, aget pesan Meme!” I Meong teken I Bikul lantas upahina be bajo asok teken padi abodag. I Meong nyuang be bajone asok, I Bikul makatang padine abodag. Keto katuturanne I Ketimun Mas.





Cerita I Ketimun Mas ini yang paling cering Ibu saya ceritakan, gimana Ibu menirukan suara Raksasa, dan bagaimana dengan lucunya Ibu menceritakan kekonyolan i buta (si buta) dan i bongol (si tuli). Saya rasa tidak ada pesan moral yang kuat yang tertanam di cerita ini, yang mungkin tersirat adalah, apapun itu ikuti dan turutilah nasehat orang tua agar tidak celaka.

Di tahun 2000-an (saya lupa persis) cerita anak Timun Mas ini diangkat dalam bonus susu Dancow. Jadi kesimpulan yang saya petik adalah, cerita Ketimun Mas selain ada di Bali, juga merupakan cerita atau dongeng anak-anak di Jawa, mungkin jalan cerita berbeda, namun konsep si timun emas yang ditangkap raksasa/buto ijo sama.



 2. Ni Bawang Teken Ni Kesuna

Ada katuturan satua anak makurenan ngelah kone pianak luh-luh duang diri. Pianakne ane kelihan madan Ni Bawang, ane cerikan madan Ni Kesuna. Ni Kesuna mula sayanganga pesan teken meme bapane. Asing-asing ane tagiha tuukina dogen, tur pesadun-pesadune misunang Ni Bawang jeg gugune dogen. Sanget pesan memene mabaat-baatan mapianak. Yening Ni Bawang maidih-idihan teken memene, pepesan tuara maan, mara-marane maan pepesan misi munyi jele. Japi keto Ni Bawang nu dogen nyulsulang dewek teken meme bapane. Jet teken andine nu dogen ia makeneh melah dening ia inget menyama buka sepite.

Sedek dina anu memene mekire luas ke peken. Laut kaukina pianakne make dadua. Cening- cening Bawang Kesuna, meme lakar ke peken, nyanan tuunang nyen padine, lantas tebuk ajak dadua dadiang baas. Reh tusing ngelah baas jakan jani. Keto omong memene. Sasubane memene mejalan ke peken lantas kaukina Ni Kesuna teken embokne. Kesuna, Kesuna ne ne suba tengai dong jalan tuunang padine. Mesaut Ni Kesuna tuunang je malu nyanan icang ngetepin. Dening keto pesautne Ni Kesuna lantas Ni Bawang menek ke glebege nuunang padi atenah. Suba tuun padine laut kaukina Ni Kesuna “kesuna, ne padine suba beten dong mai getepin. Getepin getepin ja malu nyanan icang nyemuh. Keto dogen pesaut ne Ni Kesuna. tinda tulud, Jani padine suba kone dadi baas, laut adine tundena ngaba mulihan, nanging Ni Kesuna masih tusing nyak. Sawireh Ni Bawang anak mula ngalah, laut ia padidiana ngaba baasne mulihan.

Kacrita jani Ni Bawang suba suud matetangkid. Lantas ia ngenggalang nyemak jun abana ke tukade, lakar anggona nyuun yeh sambilanga manjus. Sasubane Ni Bawang majalan ke tukade lantas Ni Kesuna ngenggalang nguap dewekne aji oot ketungan. Suba kone keto, saget teke jani memene. Ditu lantas Ni Kesuna masadu teken memene, kene munyina “Meme meme I mbok dadi aeng pesan lengitne tusing pesan ia nyak magarapan, begbeg manjus teken meseh dogen gegaena. Batas tunden ngabaang caratan ke ketungane dogen ia tuara nyak”, keto pesadune Ni Kesuna, memene ngugu dogen.

Kacritayang mangkin Ni Bawang teke uli tukade mebrentengan ngaba pantingan tur nyuun yeh. Jeg tudinga kone teken memene sambilanga nguel. Dong nyai Bawang kene dogen bikas nyaine pragat ngresiken dewek dogen dadi tusing pesan iba madalem adi. Tulen keneh ibane cara buron tusing je pakenah jlema, ditu lantas Ni Bawang tigtiga, aduh-aduh, aduh, suut meme, keto gelurane Ni Bawang nanging memene Nyumingkinang nigtig tur mesesambatan,Ih nyai Bawang keme iba magedi da mulih mulih, kai suba met mapianak teken iba. Laut Ni Bawang ngeling sigsigan tur mesesambatan kene “Uduh meme apa puaran titiang dadi pianak setata pelih dogen yen keto sekadi pangidih memene tiang lakar magedi.” Ditu lantas Ni Bawang majalan nganteg di sisin alase tingaline teken I Crukcuk Kuning. Laut I Crukcuk Kuning matakon “Ih Bawang ngudiang nyai ngeling”, Ni Bawang nuturang paindikan dewekne sedih. I Crukcuk Kuning ningehang satuan Ni Bawang, I Crukcuk Kuning nunden I Bawang ngidem lantas sirahne, baungne, lengene, jrijine, cototina. Sehanan ane cotocina pesu mas. Mara kedat Ni Bawang tingalina awakne bek misi mas. Lantas Ni Bawang mulih ke umah dadongne. Buin mani semengane teke Ni Kesuna ngidih api ke umah dadongne, tepukina NI Bawang nganggon mas-masan. Ditu Ni Kesuna nagih ngidih teken Ni Bawang nanging tusing baanga. Ni Kesuna lantas mulih morahan teken memene, nuturang paindikan Ni Bawang nganggo mas-masan, memene tundena nigtig awakne Ni Kesuna kanti babak belur, Ni Kesuna nuutang pari laksana Ni Bawang ke tengah alase.

Kacritayang mangkin Ni Kesuna kecunduk ring Crukcuk Kuning. Ni Kesuna nuturang dewekne tigtiga baan memene. I Crukcuk Kuning mekenyem tur masuara. Nah nira jani nulungin dong kidemang matane. Ditu lantas Ni Kesuna cototina sirahne, baongne, kupingne, lengene, jrijine. Sehanan ane cototina ada pesu lelipi, lelintah, celedu, muah sekancan kumatap-kumitipe. Merasa awakne baat kadena misi mas masan ngenggalan ia kedat tingalina lantas awakne bek misi lelipi, lelintah, muah ane len-lenan. Baan takutne ia glalang-gliling pantiganga awakne kanti babak belur. Nah keto upah anake melaksana corah sekadi sesonggane ala-ulah ala tinemu ayu kinardi ayu pinanggih. 

Sumber : baliohbali.blogspot.com


Cerita ini sama dengan cerita yang sudah terkenal, bahkan di sinetronkan.. yaitu Bawang merah dan Bawang putih. Bedanya, di cerita Bali, yang jakahat adalah sih bawang putih, bawang merah lah yang tersiksa. Di versi Bali, Ni Bawang mendapatkan perhiasan dari seekor burung, tapi di versi Jawa mendapatkan perhiasan dari sebuah labu.
Saya masi ingat gambar yang menjadi cover cerita ini, dimana Ni Bawang diberikan banyak perhiasan oleh burung Crukcuk Kuning. Pesan cerita ini sudah jelas, tirulah perbuatan baik ( Ni Bawang) karena akan mendapatkan hasil yang baik sebaliknya dan jangan meniru perbuatan tidak baik (Ni Kesuna) karena mendapatkan hasil yang tidak baik pula. 



 3. Cupak Teken Grantang

Ada katuturang satua, I Cupak teken I Grantang. Menyama ajaka dadua. I Cupak ane kelihan, I Grantang ane cerikan. Goba lan parilaksanan kaka adi punika doh pesan matiosan. I Cupak gobane bocok, kumis jempe, kales, brenges, lan bok barak keke alah duk. Basang gede madaar kereng pesan. Nanging joh bina ajaka adine I Grantang. I Grantang pengadegne lanjar, goba alep bagus, asing-asing anake ngantenang makejang ngedotang. Kemikane manis tur anteng magarapan.

Kacarita sedek dina anu, i Cupak ajak I Grantang matekap di carike, I Grantang matekap nututin sampi, nanging i Cupak satate maplalianan dogen gaene. Tusing pesan I Cupak ngrunguang adine magae. Disubane I Grantang suud matekap mara I Cupak teka uli maplalianan. Yadiastun keto bikas beline masih luung penampene I Grantang. I Grantang ngomong munyine alus tur nyunyur manis.

"Kemu beli malunan mulih tiang lakar manjus abedik. "Icupak masaut gangsar,"Lamun keto kola lakar malunan mulih, adi. I Cupak laut majalan mulih. Disubane joh liwat uli sig I Grantange manjus, ditu lantas I Cupak makipu di endute kanti awakne uyak endut. Disubane keto, I Cupak nutugang majalan ngamulihan saha jlempah jlempoh.

Kacarita ane jani i Cupak suba neked diwangan umahe, ditu laut I Cupak gelur-gelur ngeling. Meme bapane tengkejut ningehin eling panakne tur nyagjag laut nakonin,"Cening-cening bagus Wayan Cupak anake buka cening ngudiang cening padidi mulih buine blolotan, men adin ceninge I Made Grantang dija?" Disubane keto petakon reramane, laut masaut i Cupak sambilange ngeling. "Kene ento bapa lan meme Kola anak uli semengan metekap dicarike I Grantang anak meplalianan melali dogen uli semengan, buine ia ento ngenemin anak luh-luh dogen gaene". Mara monto pesadune I Cupak bapane suba brangti teken I Grantang. Suud keto laut bapane ngrumrum I Cupak. "Nah, mendep dewa mendep, buin ajahan lamun teka I Grantang lakar tigtig bapa, lakar tundung bapa uli jumah. "Lega pesan kenehne I Cupak ningeh bapane pedih teken I Grantang. Apang tusing ketara dayane jele, I Cupak pesu ngaba siap lakar mabongbong.

Ane jani kacaritayang I Grantang suba ngamulihang uli carik genah ipun magarapan. I Grantang majalan jlempah jlempoh kabatek baan kenyelne kaliwat. Tan kacaritayang malih kawentenang ipun ring margi, kancit sampun neked jumahne. Duk punika sahasa bapane teka nyag jag nyambak tur nigtig. Bapane ngomong bangras. Makaad cai makaad Grantang, nirguna bapa ngelah panak buka cai. Goba melah, solah jele, tur tuara demen nyemak gae, men nyak adung goba ajaka bikase? Dija cai maan ajah-ajahan keto? " I Grantang ngeling sigsigan merasa teken dewek kena pisuna. Ngomong laut I Grantang, sakewala raosne pegat-pegat duaning sambilange ngeling. "Nah, Bapa yan suba keto keneh bapane, nundung anake buka tiang....uli jumah, tiang nerima pesan tresnan bapane ento. Dumadak-dumadik sepatilar tiang uli jumah bagia idup bapa miwah belin tiange I Cupak.

Amonto I Grantang ngomong teken bapane laut majalan makaad uli jumah. Lampah laku pajalane I Grantang tur jlempah-jlempoh pejalane kabatek baan naanang basang seduk. Sakit saja kenehne I Grantang ningeh munyin bapane abuka keto. Disubane joh I Grantang liwat, teka lantas I Cupak turnakonang adine I Grantang. "Meme...Bapa...adin kolane dija? " Mesaut laut bapane, "Adin I Dewane suba tigtig bapa tur suba tundung bapa uli jumah. Jani apang tawange rasan mayusne ento." Mara keto pasaut bapane I Cupak ngeling gelur-gelur tur mamunyi : "Ngudiang ketang bapa adin kolane. Dadi tundung bapa adin kolane, dija jani alih kola adin kolane ...anak kola ...anak ... anak kola ane mayus magae, ngudiang adin kolane tundung bapa?" Ningeh munyin I Cupake keto dadi engsek memen bapane, merasa teken dewek pelih. "Jani kola lakar ngalih adin kolane, lakar abang kola takilan!" Masepan-sepan memene ngaenang I Cupak takilan.

Kacarita jani I Cupak ninggal umah ngalain memen bapane lakar ngruruh I Grantang. Gelur gelur I Cupak ngaukin adine Adi....adi....adi..Grantang ... ene kola teka ngaba takilan ..Adi!" Cutetin satua, bakat bane ngetut adine, tepukina ditengah alase. Ditu lantas I Cupak ngidih pelih teken adine. Adi jalan mulih adi, ampurayang Beli adi, jalan adi mulih!" I Grantang mesaut alot, "kema suba Beli mulih padidi, depang tiang dini naenang sakit ati, diastun tampin tiang mati.Apa puaran tiange idup tusing demenin rerama. "Disubane buka keto pasaut adine laut nyawis nimbal natakin panes tis, suka duka ajak dadua. Jalan mareren malu adi, kola kenyel pesan nugtug adi uli jumah. Ene kola ngaba takilan, jalan gagah ajak dadua. "I Cupak lantas nunden adine ngalih yeh, "Kema adi ngalih yeh, kola nongosin takilane dini. "Nyrucut I Grantang ngalih yeh. Disubane I Grantang liwat joh, pesu dayane I Cupak lakar nelahang isin takilane. Sepan-sepan I Cupak ngagah takilane tur daara telahanga. Sesubane telah, kulit takilane besbesa tur kacakanga di tanahe. Nepukin unduke ento lantas I Cupak dundune teken I Grantang. I Cupak mani-mani kapupungan. "Aduh adi apa mesbes takilane ne? Bes makelo Adi ngalih yeh kanti takilane bakat kalain pules. Nah ne enu lad-ladne jalan gagah ajak dadua."Disubane ada raosne I Cupak buka keto laut masaut I Grantang, "Nah daar suba beh, tiang tusing merasa seduk" I Cupak medaar padidiana, ngesop nasi nginem yeh, celekutang nitig tangkah, suud madaar I Cupak taagtaag nyiriang basang betek.

Disubane I Cupak ajaka I Grantang maan mareren laut ngalanturang pejalane. Kacarita ane jani I Cupak lan I Grantang neked di Bencingah Puri Kediri. Di desane ento suung manginung, tusing ada anak majlawatang. Pejalane I Cupak ngetor kabatek baan jejehne, jani suba neked kone ia di jaba puri Kedirine, ditu I Cupak nepukin peken. Di pekene masih suung manginung tuah ada dagang nasi adiri buina mengkeb madagang. Ngatonang unduke buka keto, ditu laut I Grantang metakon teken dagange ento, "Nawegang jero dagang nasi, titiang matur pitaken, napi wastan jagate puniki, napi sane mawinan jagat druwene sepi. I Dagang nasi masaut, Jero, jero anak lanang sareng kalih jagate puniki mawasta jagat Kediri. Jagat puniki katiben bencana. Putran Ida Sang Prabu kapandung olih I Benaru. Ida Sang Prabu ngamedalang wecana, sapasiraja sane mrasidayang ngrebut putran gelahe tur mademang I Benaru jagi kaadegang agung ring jagate puniki. Wantah putrin Ida sane kaparabiang ring sang sane prasida mademang I Benaru.

I Cupak masaut elah, "ah raja belog kalahang Benaru. Kola anak suba bisa nampah Benaru. Eh dagang, kema orahang teken rajabe dini. Bantes Benaru aukud elah baan kola ngitungang". I Grantang megat munyin beline, "Eda Beli baas sumbar ngomong, awak tusing nawang matan Benaru. Patilesang raga beline digumin anak. "Sakewala I Cupak bengkung ngelawan tur tuara ngugu munyin adine. "Adi baas setata, adi mula getap. Kalingke nampak ngadeg gumi, baanga ngidih nasi dogen beli nyak ngematiang I Benaru. "I Grantang nglanturang munyine teken jero dagang nasi. "Inggih jero dagang nasi durusang uningan marika ring Ida Sang Prabu. Titiang jagi ngaturang ayah, ngemademang ipun I Benaru. "Duaning asapunika wenten pabesene I Grantang, laut I dagang nasi gagesonan nangkil ka puri. Nganteg ring puri I Dagang nasi matur, "Inggih Ratu Sang Prabhu sasuhunan titiang, puniki wenten tamiu sareng kalih misadia jagi ngemademang I Benaru.

Riwawu asapunika atur I Dagang nasi, premangkin ledang pisan pikayun Ida Sang Prabhu. Raris Ida Sang Prabhu ngandika, " Ih memen cening, yen mula saja buka atur men ceninge, lautang kema tunden ia tangkil ka puri apang tawang gelah!" Sesampune wenten renteh wacanan Ida Sang Prabhu,'I Dagang nasi jek ngenggalang ngalih I Cupak teken I Grantang. Nganteg di peken dapetange I Cupak masehin lima mara suud madaar. I Grantang kimud kenehne nepukin beline setata ngaba basang layah. I Grantang laut ngomong. "Nawegang jero dagang belin tiange iwang ngambil ajengan, mangda ledang jero ngampurayang santukan titiang nenten makta jinah. "I Cupak masaut, "Saja kola nyemak nasi, ampura kola, tusing sida baan kola naanang basang layah. "I Dagang nasi anggen kenehne ningeh munyine I Grantang. Munyin I Cupake tan kalinguang. I dagang nasi laut nekedang pangandikan Ida Sang Prabhu, apang tangkil ajaka dadua. Sesampune katerima pabesene punika olih I Dagang nasi.

Teked di puri hut panjake pati kaplug melaib, kadene I Benaru. Kacrita sane mangkin I Cupak lan I Grantang sampun tangkil ring ajeng Ida Sang Prabhu raris Ida Sang Prabhu ngandika, "Eh cai ajak dadua cai uli dija, nyen adan caine?" I Grantang matur dabdab alon,"Nawegang titiang Ratu Sang Prabhu, titiang puniki wantah jadma nista saking jagat Gobangwesi. Munggwing wastan titiang wantah I Grantang, niki belin titiange mewasta I Cupak. Titiang jagi matetegar nyarengin sewayambarane puniki ngamademang ipun satrun palungguh I Ratu I Benaru. Konden suud aturne I Grantang saget sampun kasampuak olih I Cupak, tur ngomong kene, "Kola seduk, kola lakar ngidih nasi abetekan. Basang kolane layah. Suud keto I Cupak ajak I Grantang mapamit. Ida Sang Prabhu mapaica cincin mas masoca mirah teken pajenengan puri Kediri. Ento pinaka cirin I Grantang dados utusan.

Gelisang carita I Cupak kebedak-bedak, lantas nepukin telaga linggah tur bek misi yeh. Ditu lantas I Cupak morahang teken adine. "Adi...adi Grantang mareren malu, kola kenyel tur bedak pesan, kola lakar ngalih yeh ditu di telagane. "Kasautin laut pamunyin Beline teken I Grantang, "Eda beli ditu ngalih yeh, ento anak yeh encehne I Benaru tusing dadi inem, beli, "Ningeh munyin adine keto I Cupak makesiab ngatabtab muane putih lemlem. I Grantang nutugang majalan. I Cupak buin nepukin gegumuk maririgan. Ditu buin I Cupak matakon teken adine, "Nyen ane ngae gunung gunungan dini adi?" sambilange maklemir I Grantang nyaurin petakon beline. "Ene tusing ja gunung-gunungan beli, ene mula tuah taine I Benaru beli. I Cupak makraik baan takutne. "Aduh mati jani beli adi, yan mone geden taine, lamun apa ja gedene I Benaru, adi?. Jalan suba mulih adi. I Grantang nguncangang majalan ngungsi Guane I Benaru. I Cupak bejag bejug nutug I Grantang.

Kacaritayang sane mangkin I Cupak ajaka I Grantang suba teked di sisin goane I Benaru. Umah I Benaru ditengah goane. I Cupak laut ngomong " Adi .... kola tusing bani tuun adi, adi dogen suba masiat ngelawan I Benaru. Kola ngantiang dini. Kewala ngidih olas kola teken adi, tegul kola dini adi! " Bincuh I Grantang ngalih tali anggona negul I Cupak. Disubane suud I Grantang negul beline, I Grantang laut matinget teken beline, "Ene tingalin tumbake buin ajahan beli, yan bah kangin tumbake ento pinaka cirin tiange menang di pasiatan. Sakewala yan bah kelod tumbake, ento pinaka cihna tiang kalah. "Suud matinget, teken beline, I Grantang laut tuun ka goane.

Teked di tengah goane dapetange I Benaru nagih melagandang Raden Dewi. I Benaru matolihang tur matbat I Grantang. " "Eh iba manusa cenik, wanen iba teka mai, Yan iba mabudi idup matulak iba mulih ! " Disubane keto ada munyine I Benaru, laut I Grantang masaut wiring, "Apa..apa..orahang iba Benaru? Kai teka mai mula nyadia lakar ngalahan iba, tur kai lakar mendak Raden Dewi putran Ida Sang Prabhu. Kai lakar ngiring Ida ka Puri. " I Benaru lantas ngelur brangti laut ngamuk. Ditu I Grantang mayuda ngajak I Benaru. Sangkaning kepradnyanan I Grantang mayuda, dadosne I Grantang polih galah nebek basangne I Benaru nganti betel antuk keris pajenengan purine. I Benaru ngelur kesakitan basangne embud mebrarakan.

Kacrita ane jani, I Cupak baduuran ningeh I Benaru ngelur. I Cupak pesu enceh, tur tategulane telah tastas. Ditu lantas I Cupak inget teken patingetne I Grantang. Ningalin lantas tumbake ento suba bah kangin. Mara I Cupak masrieng kenehne liang. I Cupak laut ngomong, " Adi...adi Grantang antos kola Adi. Yan kola tusing maan metanding ngajak I Benaru jengah kola, Adi. " I Grantang laut ngomong uli tengah goane teken I Cupak. "Beli tegarang entungan tali bune ka goane! "Disubane ada raos adine buka keto laut I Cupak ngentungan taline ento. Ditu lantas I Grantang ngelanting ditaline apan ngidang menek. I Grantang sambilange ngamban Raden Dewi. Disubane I Grantang lan Raden Dewi nengok uli ungas goane, gegeson pesan I Cupak nyaup Raden Dewi tur sahasa megat tali ane glantingine baan I Grantang. Duaning tali bune kapegatang, ditu lantas I Grantang ulung ngeluluk ditengah goane. Semaliha Ida Raden Dewi kasirepang olih I Cupak di batan kayune satonden megat tali bune ento.

Kacaritayang sane mangkin, I Cupak ngiring Ida Raden Dewi nuju Puri Agung. Tan kacaritayang kawentenang Ida kairing baan I Cupak ring margi, kancit sampun rauh Ida ring Puri. Ida Sang Prabhu ledang kayune tan siti, digelis raris nyaup Raden Dewi. Ida Sang Prabhu raris matemuang Ida Raden Dewi teken I Cupak sawireh I Benaru suba mati. I Cupak matur ring Ida Sang Prabhu, I Grantang sampun padem, kapademang oleh I Benaru. I Cupak mangkin kaadegang Agung ring Puri.

Kacaritayang sane mangkin I Cupak sampun madeg Agung ring Puri. Makejang panjake keweh, duaning sasukat risapa madeg I Cupak sadina-dina panjake makarya guling.

Sane mangkin iring menengang abosbos cerita sapamadeg I Cupak, iring sane mangkin caritayang kawentenang I Grantang ring tengah goane. I Grantang grapa-grepe bangun nyelsel padewekan. "Raturatu Bhatara nguda kene lacur titiange manumadi?" Kasuen-suen dados metu rincikan naya upanaya I Grantang bakal nganggon tulang I Benarune menek. I Grantang ngragas tur makekeh pesan menek. Sakewanten sangkanin sih Ida SangHyang Parama Kawi I Grantang nyidayang ngamenekang. I Grantang jadi suba neked di baduuran. I Grantang lantas nugtugang pejalane nuju je puri. Gelisang carita I Grantang suba neked di puri. Ditu lantas I Grantang ngomong teken panyeroan I Cupake, "Jero tulung titiang, titiang jagi tangkil matur ring Ida Sang Prabhu. "Malaib panyroane ka puri nguningayang unduke punika teken Raden Cupak. I Cupak inget teken adine ane enu digoane. Ditu lantas I Cupak ngelur nunden panjake ngejuk tur ngulung aji tikeh tur ngentungang ka pasihe.

Kacarita buin manine Pan Bekung memencar di pasihe ento. Uling semengan nganti linsir sanje memencar tusing maan be naang aukud. Ngentungan pencar tanggun duri, pencare marase baat, mare penekanga bakatange tikeh. Buin Pan Bekung mulang pencar buin bakatange tikehe ane busan. Gedeg basang Pan Bekunge, laut tikehe abane menek tur kagagah. Makesiab Pan Bekung ningalin jadma berag pesan. Pan Bekung enggalang ngajak anake ento kepondokne. Teked dipondokne pretenina teken Men Bekung. Sewai-wai gaenange bubuh, uligange boreh. Dadosne sayan wai sayan misi awakne I Grantang. Dadi kendel Pan Bekung ajak Men Bekung iaan unduk panak truna tur bangus. Di subane I Grantang seger ditu lantas I Grantang ngae tetaneman. Megenepan pesan bungane tanema. Disubane bungane pada kembang, I Grantang ngalap bungane ento tur adepa teken Men Bekung ka peken. Sadinadina saja geginane I Grantang metik bunga lan Men Bekung ngadep.

Kacarita ane jani ada wong jero uli puri Kediri lakar meli bunga. Makejang bungane Men Bekung belina baan wong jerone ento. Disubane suud mablanja lantas wong jerone ento ka puri ngaturang bunga. Bungane ane kaaturang katerima olih Ida Raden Dewi. Mara kearasan oleh Raden Dewi dadi merawat rawat anak bagus dibungane.

Eling lantas Ida teken I Grantang anak bagus ane ngamatiang I Benaru. Ida Raden Dewi raris metaken teken wong jerone. "Eh Bibi bibi Sari dija nyai meli bungane ene?"buin mani ka pasar apang kacunduk teken dagang bungane ene." Manine kairing Ida Raden Dewi lunga, matumbasan ka pasar.Gelisang carita raris kapanggih Men Bekung nyuun kranjang misi bunga mewarna warni. Raden Dewi raris nampekin. Kagiat Raden Dewi nyingak bungkung mas masoca mirah ane anggone teken Men Bekung. Bungkunge ento wantah druwen Ida Sang Prabhu lingsir, ane kapicayang teken I Grantang. Ngaksi kawentenane punika, raris Raden Dewi ngandika teken Men Bekung. "Uduh Meme, titiang matakon, dija umah memene?' Ajak gelah melali kema ka umah Memene apang gelah nawang. " Gelisang carita Ida Raden Dewi sampun neked di pondok Men Bekung. Pan Bekung kemeg-megan sinambi ngadap kasor saha nyambang sapangrauh Ida Raden Dewi. Ningeh Bapane makalukang tur epot laut I Grantang nyagjag. Ditu lantas I Grantang matemu teken Raden Dewi. Rikanjekan pinika Ida Raden Dewi nyagjag tur mlekur I Grantang sinambi nangis masasambatan, "Aduh Beli mgudal las beli ngutiang tiang. Ngudiang beli tusing ka puri tangkil ring Ida Sang Prabhu." Sasampune wenten ketel wacanan Ida Raden Dewi raris I Grantang nyawis tur matur dabdab alon, ngaturan parindikan pajalan sane sampun lintang.

Kacaritanyang mangkin I Grantang sareng Ida Raden Dewi suba neked di puri. Sang Prabhu maweweh meweh ledang kayun Idane nyingak putrane anut masanding ajaka I Grantang. Kacaritayang mangkin I Cupak katundung uli puri. I Grantang mangkin kaadegang agung ring puri. Sasukat I Grantang madeg agung, jagate gemuh kerta raharja. Panjake sami pada girang pakedek pakenyung duaning suud ngayahin raja buduh.


Cerita ini tidak jauh berbeda dengan cerita Ni Bawang Teken I Kesuna, ada yang baik ada yang tidak baik. Bedanya, alur cerita lebih panjang.



 4. I Sugih Lan I Tiwas

Ada tuturan satua I Sugih teken I Tiwas. I Sugih ia sugih pesan, nanging demit. Tur ia iri ati, jail teken anak lacur. Liu anake tusing demen teken I Sugih.

I Tiwas buka adane tiwas pesan, nanging melah solahne, tusing taen jail teken timpal. Sai-sai I Tiwas ka alase ngalih saang lakar adepa ka peken.

Nuju dina anu I Tiwas kumah I Sugihe ngidih api. Ditu ngomong I Sugih, “Ih Tiwas, alihin ja icang kutu! Yan sube telah nyanan upahine baas.” I Tiwas ngalihin kutun I Sugihe, sube tengai mare suud. I Tiwas upahine baas acrongcong. Ia ngencolang mulih, lantas baase ento jakana.

I Sugih jumahne masiksikan, maan kutu aukud. Ngenggalang ia kumah I Tiwase, laut ngomong kene, “Ih Tiwas, ene icang maan kutu aukud. Jani mai ulihang baas icange I tuni.” Mesaut I Tiwas, “ Yeh, baase I tuni suba jakan tiang.” Masaut I Sugih, “Nah, ento suba aba mai anggon pasilih!”

Nasine ane sube ngantiang lebeng ento juange. Kayang kuskusane abana baan I Sugih. Nyananne buin teka I Sugih laut ngomong, “Ih Tiwas, I tuni bena nyilih api teken saang. Api teken saang icange ento patut manakan. Jani mai aba panak apine teken saang icange ento!”

Ditu lantas apin I Tiwase juanga baan I Sugih. Tekaning saangne apesel gede masih juanga, I Tiwas bengong ngenehang lacurne buka keto.

Maninne I Tiwas tundene nebuk padi baan I Sugih. Lakar upahine baas duang crongcong. I Tiwas nyak nebuk kanti sanja mara pragat. Upahina ia baas, laut encol mulih lakar nyakan. I Sugih jumahne nyeksek baasne, maan latah dadua. Ditu encol ia kumah I Tiwase. Suba teked laut ngomong, “Ih Tiwas, ene baase enu misi latah dadua. Jani ulihang baas icange. Yan suba majakan, ento aba mai!” Suud ia ngomong keto, lantas jakanan I Tiwase juanga. Kayang payukne masih juanga baan I Sugih.

Sedek dina anu I Tiwas luas ka alase, krasak krosok ngalih saang. Saget teka sang kidang tur ngomong, “Ih Tiwas, apa kaalih ditu?” Masaut I Tiwas tur nasarin pesan, “Tiang ngalih saang teken paku.” “Lakar anggon apa ngalih paku?” Masaut I Tiwas, “Lakar anggon tiang jukut.” “Ih Tiwas, lamun nyai nyak nyeluk jit nirane, ditu ada pabaang nira teken nyai!”

Ditu lantas seluka jit kidange. Mara kedenga, bek limane misi mas teken selaka. Suud keto sang kidang ilang. I Tiwas kendel pesan lantas mulih. Teked jumah ia luas ka pande. Nunden ngae gelang, bungkung teken kalung. I Tiwas jani sugih liu ngelah mas slake. Mekejang pianakne nganggo bungah, megelang, mabungkung, makalung mas. Lantas ia pesu mablanja.

Ditu tepukina I Tiwas teken I Sugih. Ia jengis delak-delik ngiwasin pianakne I Tiwas. Maninne I Sugih ka umahne I Tiwas matakon, “Ih Tiwas, dije nyai maan slake liu?” Masaut I Tiwas, “Kene mbok, ibi tiang ka alase ngalih lakar jukut. Saget ada kidang, nunden nyeluk jitney. Lantas seluk tiang, ditu maan mas teken slake.” Mara keto I Sugih ngencolang mulih.

Maninne I Sugih ngemalunin luas ka alase. I sugih nyaru-nyaru buka anake tiwas. Ditu ia krasak-krosok ngalih saang teken paku. Saget teka sang kidang, tur matakon, “Nyen ento krasak-krosok?” Masaut I Sugih sambilanga maakin sang kidang, “Tiang I Tiwas, uli puang tiang tuara nyakan.” I Sugih klebet-klebet bayune kendel pesan. Mesaut sang kidang, “Ih Tiwas, mai dini seluk jit nirane!” Mara keto lantas seluka jit kidange ento.

Mara macelep limanne, lantas kijem jit kidange. I Sugih paida abana ka dui-duine. I Sugih ngeling aduh-aduh katulung-tulung. “Nunas ica, nunas ica, lebang tiang! Tiang kapok, tiang kapok!”

Di pangkunge I Sugih mara lebanga. Ia pepetengan, awakne matatu babak belur. Di subanne inget, ia magaang mulih. Teked jumahne lantas ia gelem makelo. Keto upah anake loba tur iri ati.

 
Si miskin dan Si Kaya, tidah jauh berbeda, ada yang jahat ada yang baik, jangan iri hati terhadap orang lain, karena hasilnya tidak baik. Cerita ini sering Ibu ceritakan ke saya.


 5. I Rare Angon

Kacrita ada katuturan satua anak cerik madan I Raré Angon. Kadanin I Raré Angon, wireh satekané uli masekolah, ia setata geginané ngangonang ubuh-ubuhan minakadinnyané sampi, kebo, jaran, miwah kambing sadina-dina uling cerik. Apang tusing med nongosin ubuh-ubuhan ané itep ngamah di pagpagané, I Raré Angon ngisinin waktu luang sambilanga ngambar di tanahé, yén napkala ia engsap ngaba buku gambar.

Sabilang teka uli masekolah, I Raré Angon tusing engsap tekén geginané ané pedumanga tekén reramané. Keto masi ia tusing engsap tekén swadarmané dadi murid, malajah sadina-dina. Tas sekolahané ané misi buku nutugin ia ngangon. Kenyel mamaca buku, anggona nylimurang kiap, I Raré Angon nglaut ngambar. Cacep pesan koné ia ngambar wayang, pemandangan, 3d impression (red) muah ané lénan kanti ngon timpal-timpalné sekaa ngangoné.

Katuju dina anu, sambilanga nongosin sampi ngambung, I Raré Angon iseng-iseng koné ngambar anak luh di tanahé. Mara suud ia ngambar, tlektekanga gambaré ento, “Mimih déwa ratu adi kené jegég gambar anak luh ténénan? Nah, eda suba usapa pedalem i déwék ngusap.” Kéto koné kenehné I Raré Angon. Gambaré totonan adanina koné baan I Raré Angon I Lubang Kuri.



Lanturang crita, kocap Ida Anaké Agung sedek malila cita ngrereh burung di cariké. Gelisin satua, mangkin rauh ida sig tongos I Raré Angoné ngangon, tur kapanggihin olih ida gegambaran anak istri jegég pesan. Angob koné Ida Anaké Agung ngaksi gambaré ento, saha ida nauhin para pangangoné makejang. “Cerik-ceriké, nyén ané ngaé gambaré ené?”, kéto pitakén ida tekén para pangangoné. Ditu pangangoné ngaturang ané ngambar ento tuah I Raré Angon.

Mara kéto pangangken cerik-ceriké, ditu lantas ida ngandika tekén I Raré Angon, “Raré Angon, saja cening ngaé gambaré ené?”. Kacawis lantas baan I Raré Angon, “Inggih yakti titiang.” Malih matakén Ida Anaké Agung, “Dija cening taén nepukin anak luh buka kéné, orahang tekén gelah!” “Titiang matur sisip Ratu Anak Agung, tan wénten pisan titiang nahen manggihin jadma marupa asapunika.” “Men, dadi cening bisa ngaé gambar I Lubang Kuri?”

Matur malih I Raré Angon sada takut, “Punika sangkaning titiang ngawag-ngawagin, Ratu Anaké Agung.” Mara kéto pangakuné I Raré Angon, Ida Anaké Agung tusing koné ngega aturné I Raré Angon, tur ida mabaos, “Ah, gelah sing ngugu, kema alihang gelah I Lubang Kuri, yan cening tuara nyidayang, mati palan ceningé!” Kéto Ida Anaké Agung ngancam I Raré Angon.

Mara kéto pangandikan Anaké Agung, ibuk lantas kenehné I Raré Angon saha ngeling sigsigan nglaut ia mulih, sampiné kutanga di pangangonan. Teked jumahné, takonina koné ia tekén méménné, “Kenapa ja cening dadi ngeling?” Tuturanga lantas undukné kapandikayang ngalih I Lubang Kuri tekén Ida Anaké Agung. Mara kéto pasautné I Raré Angon, méménné bareng sedih minehin unduk pianaknyané.

Kacrita, jani petengné mara I Raré Angon sirep, lantas ia ngipi, ngipiang katedunin olih Ida Betara. Di pangipian, Ida Betara koné ngandika tekén déwéknyané I Raré Angon kéné: “Cening Raré Angon, eda cening sedih, ené rurungé ngaja kanginang tuut, sinah tepuk cening I Lubang Kuri!” Tuah amonto pangandikan Ida Betara tekén I Raré Angon énggalan ipun enten.

Mani semenganné, tuturanga lantas ipianné tekén méménné, tur nglaut ia morahan lakar luas ngetut buri pangandikan Ida Betara buka isin ipianné. Répot méménné ngaénang bekel. Di subané pragat, lantas I Raré Angon majalan. Pajalanné ngaja kanginang, nganti joh pesan koné ia majalan. Pajalanné tuun gunung menék jurang, megat-megat pangkung, grémbéngan, ngliwatin margi agung, sagét nepukin lantas ia padukuhan.

Di padukuhan, kacritayang I Raré Angon lantas singgah sik jeron dané Jero Dukuh. Jero Dukuh nyapa, “Sapasira Jero Alit, dados mariki paragayan?” Masaut I Raré Angon, “Inggih titiang I Raré Angon, mawinan titiang mariki, titiang ngutang déwék, sané mangkin titiang nunas ica ring jeroné genah madunungan!”

“Nah, dini cening nongos, apang ada ajaka adin ceningé, pianak Bapané dini makeengan!” Jero Dukuh ngelah koné oka istri bajang adiri. Kacrita suba makelo I Raré Angon madunungan sik jeron Dané Dukuhé, ditu lantas atepanga koné ia ngajak okan danéné. Sedek dina anu, morahan koné I Raré Angon tekén Jero Dukuh. “Tiang matur ring Jero Dukuh, mawinan tiang rauh mariki ngutang-ngutang déwék, tiang kapandikayang antuk Ida Anaké Agung ngrereh anak luh sané madan I Lubang Kuri. Kedeh pisan pakayunanidané, yan tiang tuara nyidayang ngrereh tur ngaturang ring ida tiang pacang kapademang antuk Ida.” Mara kéto pasadok I Raré Angon, ditu lantas dané Jero Dukuh masaur, “Eda cening kéweh, Bapa matujuin cening tongos I Lubang Kuriné, ditu di muncuk gunungé kaja kangin. Ditu suba tongosné cening, nanging sengka pesan pajalané kema, krana I Lubang Kuri kagebag baan soroh buroné ané galak-galak, mapangka-pangka tongos gebagané.”

Sesubanné I Raré Angon kapicain tongos ngalih anak istri ané madan I Lubang Kuri, nglaut koné ia kapicain soroh buron ané ngebag I Lubang Kuri tekén dané Jero Dukuh.

Baos Jero Dukuh: “Ané tanggu betén macan pageréng, ané baduuran soroh lelipi né gedé-gedé, ané tanggu duur raksasa dadua luh muani, ento pangalang-alang anaké kema ngalih I Lubang Kuri”, kéto Jero Dukuh nerangang tekén I Raré Angon.

Buin dané Jero Dukuh ngimbuhin, “Yadiapin kéto, ené Bapa maang Cening manik sesirep, apang prasida Cening nganteg ka puncak. Padé di malipetané Cening lantas katangehang, pét ubera Cening tekén raksasané, ené buin Bapa maang manik pangalang-alang; manik tiing, manik blabar, manik api, anggon ngentungin i raksasa. Yan ento tuara nyidayang, ené manik atmané entungin, pedas i raksasa mati. Nah, kema Cening majalan, eda Cening sumanangsaya!”

Mara kéto baos dané Jero Dukuh, nglaut majalan koné I Raré Angon ngaba manik liu pesan. Suba neked di bongkol gunungé, tepukina koné macan pageréng, entungina lantas manik sesirep. Ditu pules lantas macané makejang. Buina mara ia majalan ngamenékang, nepukin koné ia lelipi gedé-gedé, buin koné entungina sesirep. Pules koné lelipiné makejang. Mara I Raré Angon ngamenékang, siduur, tepukina raksasa dadua luh muani nglicak tusing bisa ngoyong. Ditu buin entungina baan manik sesirep, pules maka dadua raksasané ento.

Suba pada pules gebagané makejang, prasida lantas I Raré Angon katemu tekén I Lubang Kuri. Ngon I Raré Angon tekén warnan I Lubang Kuriné, sajaan patuh buka goban gegambarané ané gambara di pangangonan. Suba makelo kamemegan, I Raré Angon lantas nuturang unduk déwékné nganti teked di tongos I Lubang Kuriné, sing ja ada lén krana ia kautus olih Anaké Agung. Ajakina lantas I Lubang Kuri ka negara, bakal katur tekén Ida Anaké Agung. Mara kéto pangidih I Raré Angon, I Lubang Kuri satinut.

Gelisin crita, majalan lantas ajaka dadua nganuunang. Mara sajaan neked basa tengahang gunungé, bangun koné raksasané maka dadua, pagelur nutug I Raré Angon. I Raré Angon ngéncolang majalan, sakéwala i raksasa énggal pesan nutug pajalanné I Raré Angon. Suba paek i raksasa, I Raré Angon lantas ngentungin raksasané ento manik tiing. Dadi prajani ada tiing ategal melat pajalan i raksasané. Tiinga tusing dusa baan i raksasa, tuuka kanti lulus bah bedég punyan tiinga kajekjek. Ditu buin koné entungina manik blabar baan I Raré Angon raksasané ento. Dadi prajani ada blabar endut, masi tuuka dogén tekén i raksasa. Buin lantas entungina manik api, dadi api makobar-kobaran melat pajalan i raksasané. Ento masi tusing nyidaang ngalangin pajalan i raksasa ngepung I Raré Angon.

Jani kacrita suba paek pesan koné i raksasa ada di durin I Raré Angoné, kadi rasa ia suba maekin mati kauluh tekén i raksasa totonan. Inget koné ia tekén déwékné enu ngelah manik buin abesik, manik atmané ento lantas entungina i raksasa, mati lantas i raksasa makadadua.

Gelisang satua, I Raré Angon ajaka I Lubang Kuri jani suba neked di jeron Jero Dukuh. Katuturan koné pajalané ajaka dadua suba peteng mara neked ditu. Katuju dané Jero Dukuh sedeng matutur-tuturan ajaka okanné. “Om, Swastyastu, jero Dukuh”, kéto abetné I Raré Angon. “Om Swastyastu, yé i cening Raré Angon suba teka, kénkén rahayu pajalané Ning?”, kéto dané Jero Dukuh nyawis sapetekan I Raré Angon.

Suba koné onyang negak, suba pada maan ngidih téh anget maimbuh séla malablab, ditu dané Jero Dukuh mabaos tekén I Raré Angon, “Nah, Cening Raré Angon, buin mani semengan kema suba Cening mulih aturang I Lubang Kuri tekén Ida Anaké Agung. Ené, adin Ceningé I Luh, titipang Bapa tekén Cening, ajak ia bareng mulih kumah Ceningé, bareng ajahin sapratingkah anaké makrama di negara!” I Raré Angon sairing baos dané Jero Dukuh, tumuli ngaturang suksma ring Jero Dukuh.

Kacrita mani semenganné di subanné I Raré Angon, okan Jero Dukuhé, muah I Lubang Kuri mapamit, lantas ajaka onya makalah uli padukuhan, tumuli makejang nyakupang tangan tekén dané Jero Dukuh. Jero Dukuh mabaos, “Majalan Cening, dumadak mangguh karahayuan di jalan-jalan, selamet Cening teked ka negari!” Pajalanné ngamulihang menék jurang tuun pangkung. Tusing marasa kenyel, mara nyaluk peteng, saget suba teked I Raré Angon jumahné. Kendel pesan koné méménné. “Duh, rauh Cening pianak Mémé, pitahen Mémé Cening lakar tuara sida malipetan”. Répot méménné ngebatang tikeh muah ngaénang yéh anget anggona nyeduhang téh tamiunné.

Di subanné pada mategtegan, ditu lantas I Raré Angon nyatua, nuturang pajalanné luas ngalih I Lubang Kuri, tur maan kurenan okan Jero Dukuh Sakti. Ditu buin maweweh-weweh liang keneh méménné I Raré Angon saha tan mari ngaturang suksma ring Ida Hyang Widhi. Buin maninné pasemengan gati koné I Raré Angon ka puri ngaturang I Lubang Kuri. Angob maduluran brangti kayun Ida Anaké Agung tekén I Raré Angon, wiréh nyidayang ngalih I Lubang Kuri.

Sesubanné I Raré Angon nyidayang ngaturang I Lubang Kuri ka purian, makayun-kayun Ida Anaké Agung. “Yan tusing jlema sakti, tuara nyidayang apa ngalih I Lubang Kuri. Yén jlemané ené baang idup, pedas kagungan i déwéké lakar juanga, sinah rered kawibawan déwéké. Nah, jani lakar rincikang daya apanga prasida bakat kapatianné I Raré Angon”, kéto koné pikayun Ida Anaké Agung ring pikayunan.

Ditu lantas Anaké Agung nganikain I Raré Angon apanga ngrerehang ida macan, “Cai Raré Angon kema Cai buin luas, alihang anaké buka gelah macan, dot pesan gelah apang nawang macan. Nah, kema Cai énggal-énggal majalan!”

Mara kéto pangandikan Ida Anaké Agung, ngembeng koné yéh paningalané I Raré Angon, wiréh suba ngrasa tekén déwék kaupayain baan Anaké Agung. Mapamit lantas ia budal.

Gelisang satua énggal, suba neked jumah, matakon lantas kurenanné tekén I Raré Angon, “Beli, kénkén ja dadi masebeng sedih, anak kénkén di puri? Apa beli dukaina tekén Anaké Agung? Nah té orahang kapining tiang, nyén nawang tiang prasida matetimbang kapining baat keneh beliné?

Masaut I Raré Angon, “Kéné adi, sinah suba baan beli Anaké Agung pedih pesan tekén beli. Suba beli nyidayang ngalih I Lubang Kuri, jani buin beli kapangandikayang ngalih macan.”

Masaut kurenanné, “Yan bantas akéto, eda beli sanget ngéwehang, né tiang ngelah manik astagina, paican dané i bapa. Jani tiang ngadakang macan. “Manik astagina, apang ada macan!”, prajani koné ada macan gedé gati. Nah, kema suba beli ka puri tegakin macané ené, aturang tekén Ida Anaké Agung!” Tegakina lantas macané ento ka puri. Teked di puri, sedek Anaké Agung katangkilin olih panjakidané. Ditu makejang anaké ané tangkil serab malaib, jejeh pati kaplug palaibné. Ida Anaké Agung pramangkin jejeh ngetor wau nyingakin macan ané galak tur mamunyi gruéng-gruéng.

“Gediang-gediang!” Keto pangandikan Anaké Agung sambilang ida malaib ngapuriang. Gedianga koné lantas macané ento tekén I Raré Angon, tegakina abana mulih. Teked jumahné macané ento lantas pastuna tekén kurenanné apang dadi lesung, dadi lantas macané ento lesung.

Buin maninné, buin koné I Raré Angon kaséngin ka puri, ngandika Anaké Agung tekén I Raré Angon, “Cai Raré Angon, kema gelah alihang naga, yan cai tondén maan naga, da cai malipetan mulih!”

Ngiring koné I Raré Angon, lantas ia mapamit budal. Teked jumahné morahan koné ia tekén kurenanné. Ditu lantas kurenanné nyemak manikné. “Manik astagina apang ada naga!” Ada koné lantas naga gedé pesan, tegakina lantas nagané tekén I Raré Angon ka puri. Ngokok koné nagané ento salantang jalan. Suba neked di bancingah, nglépat ikut nagané bakat pentala koné candi bentaré, aas candi pamedal Ida Anaké Agung. Anaké di bancingah pada pablesat malaib, takut tekén naga.

Ida Anaké Agung mara mireng orta dogén suba ida ngetor, saling ké ngaksinin, méh ida lemet prajani. Kapangandikayang lantas I Raré Angon ngediang nagané ento. Mulih lantas I Raré Angon negakin naga. Teked jumahné nagané ento lantas pantuna tekén kurenanné dadi lu.

Kacrita Ida Anaké Agung angob pesan tekén kasaktian I Raré Angoné. Buin maninné lantas I Raré Angon kandikayang ngalih tabuan sirah. Ditu lantas kurenanné ngadakang tabuan sirah, ambul guungané gedén umahné, buina nedeng benbena, pagriyeng inanné galak-galak. Ento koné téngténga tekén I Raré Angon abana ka puri.

Suba neked di puri, pesu makejang inan tabuanné, sahasa ngrebut ngacelin Ida Anaké Agung. Ida Anaké Agung lantas nyelé ati, angganidané beseh makaukud. Suba suud ngacelin, tabuané lantas nambung. Ditu Ida Anaké Agung tusing mrasidayang ka pamreman, raris karampa angganidané olih para pangabihnyané.

Upas tabuané nyusup ka anggan Ida Anaké Agung kanti ida tuara méling tekén raga. Buin maninné lantas ida néwata. Makuug tangisé di jero puri tan papegatan. Sasampun Ida Anaké Agung séda, I Raré Angon lantas ka purian ngalih I Lubang Kuri tur lantas ajaka mulih kumahné. I Lubang Kuri lantas anggona kurenan.

Kacrita sesédan Ida Anaké Agung, kasub pesan koné kasaktianné I Raré Angon. Yadiastun ia sakti sakéwala I Raré Angon tusing taén sigug kapining anak lén. I Raré Angon setata mapitulung tekéning anak lara ané ada di guminné. Ento makrana makelo-kelo I Raré Angon lantas kadegang Agung baan panjaké. Sasukat I Raré Angon madeg Agung panjaké trepti, lingkungané bresih; tusing taén ada banjir, tusing taén ada grubug muah sakancan isin guminé pada asah-asih lan asuh.


Sumber : rare-angon.com

 


Cerita ini lebih panjang dari sebelumnya, saya masi inget buku yang ada cerita ini, saat itu saya masi SD baru belajar baca, saya sangat ingin tau cerita rae angon ini, Ibu lah yang membantu menceritakan kisah Rare Angon.
Rare artinya anak kecil, dan Angon artinya gembala. Seorang anak gembala yang karena keisengannya, tanpa ia duga bisa menemukan masalah. Rare Angon memiliki kegemaran melukis di tanah disaat menjaga ternaknya, suatu ketika ada seorang Raja yang menginginkan wanita cantik yang digambar olehnya. Apabila ia tidak menemukan wanita itu, ia akan dibunuh, Buset yak, jaman dulu Raja otoriter banget,.,. Hahaha.,.., 
Disaat keputusasaannya, dia mendapatkan bantuan kesaktian sehingga dia bisa membawa wanita itu, si Raja tidak puas, malah meminta yang lain...
Pesan dari cerita ini, jalani lah hidup, karena pasti ada jalan bagi dia yang jujur. Selain itu  pesan yang disampaikan adalah, tirulah Rare angon, dengan kesaktian yang dimilikinya, dia tetap menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong..
Saya masi ingat ilustrasi gambar yang ada dalam buku satua Bali itu, yaitu dimana saat Rare angon menggambar wajah i Lubang Kuri, dan saat Rare Angon menunggangi Macan ke Puri.



Hehehe...

Itulah lima dari banyak cerita Satua Bali yang ada. Saat ini, hanya kelima satua itu yang melekat di kepala saya. Masi banyak cerita lainnya. Apabila teman-teman ingin mengkoleksi sebagai referensi, silahkan menuju link-link diatas, ada banyak satua Bali yang lainnya.

Sepertinya suatu saat nanti saya harus memberkan dongeng-dongeng ini ke anak saya. Selain menanamkan pesan moral, dari satua Bali ini saya bisa menguatkan anak saya kalo dia adalah anak Bali yang harus tetap sadar akan keBali-annya. Kalo bukan anak Bali yang melestarikan satua Bali, ya siapa lagi. Selain itu, memberikan dongeng ke anak sebelum dia tidur, bisa memperat hubugan antara anak dan orang tua, anak bisa merasakan bagaimana perhatian orang tua, tidak seperti anak-anak jaman sekarang, orang tua sibuk dengan pekerjaan, si anak malah lebih akrab dengan babysitter-nya. Semoga apa yang saya tulis ini bisa saya realisasikan kelak dengan anak saya..


Salam :)