Pages

Blink 182

Masi menunggu kehadiran mereka di Indonesia, I Hope..

I Made nanoe Biroe

Musisi Bali yang inspiratif

Bali

Is Still Charming but have many internal problem

Friday, November 29, 2013

Bali yang ternyata tidak semuanya indah




Suatu malam, saya iseng buka facebook, saya melihat salah satu teman yang sharing sebuah link, yang mengangkat tentang permasalahan yang ada di Bali.. Saya menilai, secara umum apa yang ditulis dalam artikel tersebut tidak jauh dengan apa yang saya nilai tentang Bali saat ini.

Kesampingkan dulu tentang indahnya alam Bali, kuatnya budaya Bali, atau (konon) ramah-ramahnya orang Bali menyambut para wisatawan.
Waktu sudah bergeser, sekarang jaman sulit di Indonesia, uang bukan segalanya, tapi ternyata faktanya uang dapat mengalahkan segalanya.

Balik lagi mengenai artikel tersebut. Artikel tersebut bersumber dari popbali.com , yang berjudul "Masalah Kronis di Bali : 6 Keluhan Wisatawan vs Keluhan Warga"

Bagaimana isi artikel tersebut?
Silahkan klik saja link popbali.com diatas.
Saya mencoba sedikit menulis beberapa masalah di Bali sesuai dengan bahasa, pemikiran, dan pengalaman saya sendiri.

Mari kita uraikan satu persatu 


1. Kemacetan dan Infrastruktur Jalan.

Kemacetan merupakan sebuah dampak negatif dari sebuah kota yang berkembang. Denpasar saat ini sudah menjadi salah satu kota yang mulai padat. Banyaknya investor membuka usaha, berimbas dengan menambahnya tenaga kerja dan berputarnya perekonomian kota, selalu berbanding lurus dengan bertambahnya penduduk. Masalahnya adalah para pekerja menggunakan kendaraan pribadi sebagai sarana transportasi.
Di sisi lain, mudahnya kepemilikan kendaraan saat ini juga menadi faktor utama penyebab kemacetan, hanya dengan beberapa ratus ribu, kita bisa mengkredit motor, begitu juga dengan mobil, dengan DP beberapa juta saja, kita sudah bisa mempunyai sebuah mobil. Disamping itu, sarana transportasi umum yang masi bisa dikategorikan kurang nyaman menjadi faktor pemicu kemacetan. Bahkan Gubernur Bali sudah memberkan alternatif angkutan umum gratis untuk trayek tertentu dan angkutan Transbagita untuk mengurangi minat masyarakat untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi.
Bisa saya bilang, kendaraan umum di Bali 'tidak laku' di kalangan masyarakat, sepinya peminat membuat lamanya angkutan umum ngetem. Untuk nunggu angkutan umum jalan bisa berjam-jam. Saya salah satu pengguna angkutan umum untuk angkutan antar kabupaten kota, trayek Singaraja - Denpasar. Saya biasa menunggu Isuzu, sebutan angkutan umum, di terminal sangket di Singaraja, terminal yang lengang dan sepi akan calon penumpang. Untuk mau ke Denpasar, saya harus menunggu berjam-jam disana menuggung sampai Isuzu  penuh baru jalan. Hal ini sangat mebuang waktu. Lumrah apabila masyarakat lebih memilih naik motor atau mobil sendiri.

Beberapa tahun lalu, untuk menuju Denpasar dari Singaraja tidak pernah saya temukan yang namanya macet, tapi saat ini, tepatnya di hari-hari libur, saya selalu menemukan macet dari Pancasari sampai baturiti, mungkin kalo menggunakan motor masi bisa lebih lancar, nah kalo dengan mobil, kemacetan sudah pasti ditemui. Belum lagi ada kecelakaan kendaraan di tengah jalan yang memperparah kemacetan. Belum lagi sampai Denpasar, kendaraan menumpuk dari Pasar Beringkit, karena disana pertemuan lalu lintas dari Singaraja, dan dari arah Tabanan yang merupakan lalu lintas Jawa Bali, dari sanalah titik kemacetan menuju Terminal Ubung. 

Hal kedua yang menjadi poin penting kemacetan di Bali (khususnya daerah Denpasar Badung Gianyar dan Tabanan) adalah infrastruktur jalan. Syukurlah saat ini sudah dibangun jalan tol Bandara Nusa Dua dan underpass di Simpang Siur, yang menjadi salah satu solusi yang 'sedikit' membantu mengurai kemacetan, walaupun menurut saya itu sifatnya hanya sementara saja. Kenapa saya bilang sementara? Logika saja, pertumbuhan kendaraan dan bertambahnya jalan sangatlah berbeda, bisa di cek penjualan kendaraan dari perusahaan-perusahaan penjualan otomotif di Bali meningkat tiap tahunnya, dibandingkan pembangunan jalan yang lebih lambat.
Menurut artikel di popbali.com, ada beberapa hal yang menghambat perluasan infrastuktur jalan, salah satunya yaitu kuatnya adat di Bali. Masyarakat Bali terikat adat di Bali yang akan membuat sulitnya melakukan pembebasan tanah, bagaimana misalnya jika jalur jalan motong sebuah Pura, Sanggah, atau pelinggih, sulitnya memungkinkan dibuatnya jembatan layang / flyover karena posisi Pura ada dibawah kendaraan yang lalu lalang di jalan atas. Sebuah keputusan yang benar-benar harus dipikirkan secara matang terlibh dahulu sebelum diambil.


Maraknya isu mobil murah saat ini menjadi salah satu ancaman kemacetan di Bali, bagaimana tidak, saat mobil masi menjasi suatu pristise diakalangan masyarakat dan didukung dengan harga yang murah, tentu saja peminatnya banyak, dan tentu saja jalanan makin penuh. Saat ini lah pemerintah dituntut untuk bisa mengambil langkah strategis dalam menangani masalah kemacetan. Seperti halnya Jakarta yang bahkan bertahun-tahun sampai detik ini pun, kemcaetan masi seperti benang kusut yang sulit dicari jalan keluarnya. Selain pemerintah, menurut saya, peran masyarakat sendiri juga lah yang benar-benar ikut andil dalam penanggulangan kemacetan ini. Jangan mengeluh terhadap sesuatu masalah yang kita buat sendiri. Menyalahkan banyak pihak padahal penyebab masalah itu juga adalah kita-kita sendiri, mari kita mulai sadar dan benahi diri.

Kemacetan dan Infrastruktur Jalan
Masalah Kronis di Bali: 6 Keluhan Wisatawan Vs Keluhan Warga - See more at: http://popbali.com/masalah-kronis-di-bali-6-keluhan-wisatawan-vs-keluhan-warga/#sthash.azTzpgHC.dpuf
Masalah Kronis di Bali: 6 Keluhan Wisatawan Vs Keluhan Warga - See more at: http://popbali.com/masalah-kronis-di-bali-6-keluhan-wisatawan-vs-keluhan-warga/#sthash.azTzpgHC.dpuf
Seandainya orang bodoh seperti saya boleh berpendapat, cara menanggulangi macet adalah dengan

1. Tingkatkan kenyamanan dan fasilitas transportasi umum, buat bagaimana agar masyarakat merasa aman dan nayaman menggunakan fasilitas transportasi umum.

2. Tolak kebijakan mobil murah, sudah jelas, yang untung hanya pihak tertentu saja, buat apa punya mobil kalo seandainya di jalan stuck  ga jalan.

3. Apabila fasilitas transportasi umum sudah memadai, naikkan pajak kendaraan dan tarif parkir, tentu agar orang menjadi berpikir ulang dalam membawa kendaraan ke suatu tempat.

Tentu hal tersebut tidak mudah, tapi untuk apa punya pemerintah kalo mereka tidak bisa, kan lebih baik mundur :)
         


2. Sampah dan Kebersihan.


Hal ini sudah menjadi tanggung jawab bersama, masalah sampah dan kebersihan sudah pasti berasal dari pribadi masyarakat sendiri, bagaimana disiplinnya dalam membuang sampah. Saya merupakan salah satu warga yang masi tertarik mengunjungi beberapa tempat wisata di Bali, salah satu tempat yang saya sering kunjungi bersama istri adalah Pantai Sindhu, sebuah pantai yang tidak jauh letaknya dari Pantai Sanur dan Hotel Bali Beach. Minggu sore merupakan saat yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik warga lokal, wisatawan lokal, dan wisatawan asing. Saya sebenarnya bukan peminat pantai untuk renang, surfing atau mancing, saya cuma suka duduk diatas pasir sambil ngobrol-ngobrol. Satu hal yang menjadi pusat perhatian saya adalah sampah yang berserakan di sekitar pantai, entah kenapa pengunjung dengan mudahnya membuang sampah bekas makanan sembarang begitu saja di pasir, saya banyak menemukan hal tersebut. Betapa kasiannya para aktifis kebersihan, berkampanye dan melakukan aksi bersih ke penjuru pantai di Bali, tapi di sisi lain, masyarakat sendiri yang merupakan tuan rumah di pantai itu malah begitu gampangnya membuang sampah. Saya tidak munafik, sok bersih, saya hanya mengutarakan sisi buruk dari yang saya lihat di sekitar saya, di pantai saya biasa merokok, puntung rokok bekas saya hisap selalu saya kantongi dan baru saya buang setelah saya menemukan bak sampah. Marilah kita sama-sama disiplin terhadap sampah, setidaknya dari sampah kita sendiri.

Mungkin cerita diatas adalah secuil masalah sampah yang ada di Bali. Bagaimana dengan masalah sampah di pantai yang selalu di keluhkan wisatawan saat berselancar di pantai? Bagaimana sampah di sungai Badung? Pasar-pasar? atau sudut-sudut jalan kota. Kalo bukan dari kita yang membuat bersih rumah kita, siapa lagi? bukannya kita malu, Bali yang disebut Surga ternyata banyak terdapat tumpukan sampah.?? 



3. 'Pelacuran' Obyek Wisata.


Seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan ini, uang adalah hal yang menjadi salah satu faktor masalah. Nah karena faktor uang itulah yang menjadi pemicu utama mengapa terjadi istilah 'Pelacuran' Obyek Wisata. Dalam artikel popbali.com diungkapkan bagaimana penjual cindera mata memaksa calon pembeli untuk membeli jualannya, bagaimana para guide memaksa tamunya untuk berbelanja di sebuah artshop yang mejadi kerjasamanya, bagaimana oknum-oknum obyek wisata melakukan pungutan-pungutan yang berkedok sumbangan keagamaan, dan masi banyak mungkin yang lain.

Suatu hari saya berkunjung ke Pura Besakih, tentu saya kesana untuk sembahyang, bukan sebagai wisatawan yang hanya melihat-lihat ataupun  berfoto-foto di depan pura. Baru sebentar saya turun dari mobil, saya langsung dikerubungi anak-anak yang menanjakan bunga dan dupa dengan nada memaksa, saya sih tentu sudah bawa dari rumah karena memang menyiapkan untuk sembahyang, dan karena alasan tidak ingin diganggu terus, saya pun mengiyakan membeli bunga dan dupa itu. Nah itu salah satu contoh yang saya alami, saya adalah pengunjung pura yang hendak sembahyang, bagaimana kalau pengunjung wisatawan lain. Betapa tidak nyamannya mereka disaat menikmati keindahan Pura besakih, selalu di desak dengan nada memaksa oleh beberapa penjual souvenir. Kembali, tentu itu masalah uang, kalo tidak seperti itu, jualan mereka tidak laku. Disaat itu pula, kebetulan saya membawa seorang teman yang non Hindu, yang memang berniat mengunjungi Pura Besakih untuk melihat-lihat sebagai wisatawan, dengan halus dia menolak semua pedagang yang memaksa dia untuk membeli jualannya. Ada satu hal yang membuat saya 'geli' saat itu, ada seorang bapak-bapak, kalo tidak salah tangkap, dia adalah guide yang biasa menjadi tour leader disana. Teman saya tidak diperbolehkan masuk ke area pura, karena tidak melakukan persembahyangan, tapi kalo ingin masuk, hanya bisa dengan panduannya, dia lah yang akan memandu di area pura. Gratis ?? kencing aja bayar kok :D
Saya setuju dengan melarang pengunjung masuk areal pura untuk yang tidak sembahyang, tapi saya tidak setuju dengan ada pengecualian boleh masuk ke areal pura bagi yang mau bayar.. Inikah yang dinamakan sebuah 'pelacuran'.

Tidak hanya di Besakih saja, saya juga pernah menemuai pedagang souvenir yang selalu memaksa untuk membeli barang jualannya di Penelokan, yaitu di daerah wisata Danau Batur Kintamani. Saya sih disana hanya mampir istirahat sebentar setelah beberapa jam naek motor. Ya kembali lagi, saya terpaksa membeli daripada diganggu terus, Hehehe..

Adakah suatu pembinaan terhadap masyarakat yang mencari mata pencaharian di areal tempat wisata oleh dinas Pariwisata? Pakah Dinas pariwisata tutup mata melihat keadaan ini? Pakah tidak malu beberapa wisatawan asing banyak menulis ketidaknyamanan ini di blog mereka dan dibaca banyak wisatawan lain yang hendak berkunjung ke Bali? Apa iya sekarang Bali masi menjadi tempat yang nyaman sebagai tempat yang patut dikunjungi kalo keadaannya berlanjut terus seperti ini? 


3. Keamanan.



Bali sudah tidak aman saat ini. Sudah banyak terjadi pencurian dan perampokan, satu hal yang merupakan dampak negatif dari bekembangnya sebuah daerah. Saat ini, sudah tidak jarang kita temui di media massa maupun elektronik, kasus-kasus pencurian. Pihak kepolisian harus kerja ekstra keras dalam menanggulangi masalah ini. Sebagai masyarakat, waspada adalah hal yang wajib dalam menghadapi masalah ini. 

Tidak banyak mungkin yang bisa saya tulis tentang keamanan di Bali, saya tidak mau mengkambing hitamkan pelaku kejahatan di Bali adalah kebanyakan dari para pendatang, karena ada beberapa kasus kejahatan juga dilakukan oleh warga Bali sendiri. Yang pasti faktor uang lah penyebab masalah ini. Dimana terjadi pertumbuhan ekonomi dan penduduk, kejahatan dan kriminalitas senantiasa membuntuti, jadi waspadalah..
  


4. Lesunya Pasar Tradisional.

 http://umaseh.com/wp-content/uploads/2013/08/016.jpg

Kalo saya bole bertanya, seandainya berbelanja, lebih nyaman mana berbelanja di toserba yang nyaman dengan berbelanja di pasar yang becek dan banyak sampah??

Nah ini adalah salah satu masalah yang umum ditemukan di kota-kota di Indonesia, menjamurnya toko retail serba ada sudah mengalihkan perhatian masyarakat untuk berbelanja ke pasar-pasar atau toko-toko kelontong kecil lainnya. Saya tidak membahas masalah ini secara umum, yang menjadi perhatian saya adalah lesunya pasar/toko kecil penjual oleh-oleh Bali. Saat ini bermunculan banyak toko one stop  souvenir Bali, masuk ke satu toko, maka semua jenis oleh-oleh khas Bali ada disana, tentu dengan kondosi yang lebih nyaman dan harga sudah pasti. Tidak seperti halnya di pasar atau toko souvenir kecil, kondisi yang tidak nyaman, dan harga yang dipermainkan pedagang menjadi satu hal yang menjadi alasan kenapa para wisatawan lebih memilih berbelanja ke Toko oleh-oleh yang besar. Hal itulah yang membuat para pedagang mengeluhkan kehadiran toko oleh-oleh tersebut, dan sudah pasti omset mereka pun turun drastis. Kerja sama toko oleh-oleh dengan banyak perusahaan tour menjadi masalah besar bagi pedagang kecil, karena para wisatawan sudah pasti tidak mengunjungi mereka untuk berbelanja. Sepertinya pemerintah daerah harusnya lebih memperhatikan keadaan pedagang kecil, tidak semata-mata memberikan ijin dibukanya toko oleh-oleh yang besar. 

Tiap pulang ke Bali saya biasanya membeli beberapa makanan sebagai oleh-oleh buat teman-teman kantor di Jakarta, saya biasanya membeli di Jl. Sulawesi, kawasan toko-toko oleh-oleh kecil di areal pasar Badung. Biasanya saya membeli kacang ataupun brem. Saya juga pernah membeli di toko oleh-oleh besar seperti Erlangga maupun Krisna, memang berbeda sekali, seandainya membandingkan dan memilih, tentu saya memilih yang besar, karena semua ada, lengkap, dan harga jelas. Satu yang membuat saya malas berbelannja di toko oleh-oleh besar hanya karena ramainya saja, bis-bis besar pada kesana, sepertinya rombongan wisatawan lokal yang digiring kesana. Bagaimana pedagang kecil tidak gigit jari dengan keadaan ini, disaat dagangan mereka sepi, di lain pihak toko oleh-oleh besar selalu dibanjiri pengunjung, sampai saya pegal mengantre. Melihat keadaan tersebut, setidaknya saya pribadi sekarang sudah mulai sebisa mungkin tidak membeli di toko oleh-oleh yang besar, apabila barang yang saya inginkan ada di pedagang kecil dan jaraknya tidak jauh, saya memilih berbelanja disana, dan setidaknya, saya bisa membantu pergerakan perekonomian mereka.


Masi banyak masalah yang ditemui di Bali..
Semoga kedepan Bali masi tetap menjadi ikon pariwisata yang nyaman di kunjungi, karena tidak bisa dipungkiri, perekonomian masyarakat Bali sangat tergantung dengan pariwisata

Astungkara.. :) 

Wednesday, November 27, 2013

Desa Madenan, Desa dimana saya berasal.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1Qv9X5JeGIQvoagBq7MVX92psaRxH58Q0yYSfYs1D0wPx6C3nHQaw5e73Gc2bOCygVLovVVMIr8ChXMrC9cNsnZsi99BMoZAADv38n9pkxaJELpcXbjoqRLq1dcpDLjtsN8KHO15pBzU/s220/logo+adat+terpakai.jpg 
 (Sumber gambar diambil dari : desaadatmadenan.blogspot.com  )



Kali ini saya pengen bahas sebuah desa dimana saya berasal..
Ya desa itu bernama Desa Madenan.

Tapi disini saya ga menjelaskan secara ilmiah data dan fakta, karena saya memang ga punya data apa² tentang Desa Madenan. Saya hanya ingen bercerita "ngaco" sesuai dengan apa yang saya tahu di kepala saya, dan apa yang pengen saya ungkapkan tentang Desa ini di blog ini. So uda pasti isinya banyak ngaco,., Wakakaka..
Okeh, kita mulai..


Sebelum saya cerita, saya pengen (asli) ngopas tulisan tentang sejarah Desa Madenan dari sebuah Blog : madenan-buleleng.blogspot.com



Didalam menelusuri sejarah Desa Madenan sangat sulit, karna  langkanya sumber - sumber yang ada untuk mendapatkan  kebenarannya,  penulis mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh  masyarakat  yang  tahu mengenai  asal-usul  Desa Madenan,  disamping itu  berdasarkan  informasi  I Putu Sugianyar  dan   I Nengah Swarta  dari  Desa Tojan,  Kecamatan  Kelungkung, Kabupaten  Kelungkung  telah diceritakan  bahwa :

 Pada jaman Kerajaan Dalem Ketut Ngelesir di Bali ( Dalem Gelgel )  Tahun  Caka 1306-1402, tahun Masehi 1386-1480 terjadilah  huru-hara di Bali  yang  dilakukan oleh golongan masyarakat Bali Age antara lain  : Desa  Alas  Gunung   Sari,  Bondalem,  Les,  Penuktukan,  Sambirenteng, Tembok, Tianyar, Culik, Angan Telu ( Antiga ) dan lain-lainnya. Untuk mengatasi uru-hara yang terjadi di desa-desa tersebut diatas maka  : Dalem Ketut Ngelesir minta  bantuan  ke  Kerajaan  Majapahit yang  ada  di  Jawa. Dari  Kerajaan  Majapahit  maka  diutuslah  seorang  Pangeran  yang  diiringi   oleh beberapa  Pepatih  antara  lain  :  Patih Cempida,  Patih  Dekeh,  Patih  Angan  dan beliau    pertama  kali  mendarat  di Pulaki  selanjutnya  menuju  ke Besakih  untuk mohon keselamatan  dari  sini  akhirnya  beliau memilih Muteran  sebagai  Markas ( sekarang desa Muteran Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ).

Ditempat   inilah  Pangeran  menyusun  rencana  serta  melakukan   penyamaran – Penyamaran  kedesa-desa yang  melakukan  huru-hara. berdasarkan  Prasasti  yang Ada di Desa Tojan, Kecamatan Kelungkung,  Kabupaten  Kelungkung,  penyerangan  pertama dilakukan di Desa  Alas  Gunung  Sari   melalui   Desa Dausa   kemudian  dilanjutkan  ke desa-desa  yang  lain. dengan  mengetahui   dari isi prasasti  tersebut  maka  kemungkinan  besar  desa  Madenan  perubahan   nama dari  Desa  Gunung  Sari  yang  terletak  di palemahan  Pekarangan  yang  berjarak lebih kurang 1 km disebelah tenggara desa Madenan sekarang.

 Disamping  itu  juga untuk mengetahui asal-usul Kata Desa Madenan,  penulis mengadakan wawancara dengan  tokoh-tokoh  masyarakat  dan  ditambah  dengan cerita-cerita rakyat atau foklove. Diceritakan  pada  jaman  dahulu Desa Alas Gunung Sari berpenduduk  : 200  KK. Pernah terserang wabah penyakit menular yang banyak makan korban. Sedang  Kuburan  pada  waktu  itu,  menurut  kepercayaan  hanya  berjumlah Maksimal  18  buah  ( lubang ).  Sehingga  dari  hal  itu  berakibat  banyak  mayat- mayat  yang tidak  tertampung,  kemudian   mayat - mayat   tersebut  dikumpulkan dalam satu tempat  yang  bernama  : “  BANGKE TAMBUN  “ ( Bangke = Mayat Tambun  = Kumpulan  ). Disebelah kuburan tersebut diatas sampai kini terdapat sebuah   peninggalan  Pura Dalem Dari  adanya  bencana  wabah   penyakit  menular  yang  menyerang  warga Desa Alas Gunung Sari pada akhirnya hanya tertinggal  7  (Tujuh ) KK.Cikal bakal 7    KK.  Inilah    yang    masih   bias   bertahan    dan    berjalan    perlahan - lahan ( d alam Bahasa Bali = Meadengan ) mencari tempat disebelah barat laut desa  Alas Gunung  Sari  dan  akhirnya   mereka  menetap  disana  dan  berkembang  kebanjar Gentuh,   Sangambu  dan  Keduran. dari   kedua   versi   tersebut   diatas    dapatlah disimpulkan   nama   Desa  Madenan  yang  ada   kemungkinan  diambil  dari  kata Desa   MEADENGAN   yang lama - kelamaan  mengalami  perubahan pengucapan menjadi  :  *  MADENAN *
Desa Madenan telah berumur ratusan tahun, jika dilihat dari para  leluhur penghuni Desa ini kebanyakan generasi sekarang ini adalah generasi  keturunan ketujuh   KK  dari Penghuni pertama leluhurnya yang datang di desa ini. Dari  asal – usul   penduduk   yang menghuni desa Madenan terdiri dari berbagai ragam keturunan,

Sampai  sekarang  didesa  Madenan  ada  14  Dadya  ( Kumpulan Keluarga )  yang menyungsung kawitannya ( Pura Leluhur/Pura Dadya ) yang terdiri atas   :

    1.  Jelantik / I Dewa Gede Madenan  :          2   Dadya
    2.  Pasek Kayu Selem                           :           5   Dadya
    3.  Dalem Taruk                                    :           1   Dadya
    4.  Pasek Gelgel                                    :           3   Dadya
    5.  Pasek Taro                                      :           1   Dadya
    6.  Pasek Bendesa Mas                       :           2   Dadya
    7.  Pasek Tangkas                               :           2   Dadya
    8.  Arya Penatih                                  :           1   Dadya
    9.  Arya Anggan                                 :           1   Dadya
    10. Arya Ngurah Kamasan              :           1   Dadya
    11. Pasek Kebayan                            :           1   Dadya
    12. Pasek Padang Subadra              :           2   Dadya
    13 .Pande Tusan                                :           1   Dadya
    14. Arya Demung                              :           1   Dadya

Setiap dadya melakukan piodalan di pura kawitannya sesuai  dengan  perhitungan hari   dipuranya/dadyanya  masing-masing,   dan  rasa  kekeluargaan  diantara  dadya sangat  erat  terlihat  dalam  pelaksanaan  manusa  yadnya  dan  pitra   yadnya   yang berjalan lancar.

Beberapa   Dadya   telah   mempunyai   organisasi     khusus   untuk   melakukan kegiatan   upacara  seperti  melakukan  upacara  Ngaben   ( Pitra Yadnya )      secara gotong  royong  dalam  bentuk  sederhana  tetapi  mempunyai  arti  serta  nilai  yang tinggi ditinjau dari segi Agama Hindu.



Mengenai lambang, dari blog madenan-buleleng.blogspot.com 
saya menemukan arti dari lambang tersebut.




                        ARTI LAMBANG DESA MADENAN

SEGI LIMA                                 : Berdasarkan Pancasila
GUNUNG                                    : Desa Madenan  terletak  didaerah  Pegunungan
CANDI BENTAR                        : Lambang Kebudayaan
TANGGA EMPAT                      : Desa Madenan terdiri dari empat Desa Pakraman
RANTAI LIMA                           : Persatuan dan kesatuan lima Banjar Dinas
PADI KAPAS                              : Lambang Kemakmuran
ANGGSA                                     : Lambang perwujudan Kedamaian
SAPTA GOTRA LOKA STITI : Bermula dari tujuh warga menuju tempat yang damai
CANDI BERINGKAT TIGA     : Desa  Madenanmasih   memegang   teguh    pola Hidup Tri Hita Karana.





Beberapa data mengenai Desa Madenan : 
(sumber : tejakula.bulelengkab.go.id )




LUAS WILAYAH DESA
Luas Wilayah Desa Madenan : 1.373    Ha.

Pemanfaatan Wilayas sbb   :
Pemukiman             :   36       Ha.
Perkantoran             :   0,96    Ha.
Sekolah                      :   2,5      Ha.
Pasar                          :   0,15    Ha.
Tempat Ibadah          :   3,85    Ha.
Kuburan              :   2,56    Ha.
Perkebunan/pertanian  :  1.134   Ha.
Hutan Lindung          :    57      Ha
Jalan                        :  25,5     Ha
Lain-lain                 :  110      Ha.

LETAK DAN BATAS-BATAS DESA

Letak Desa
Dilihat dari jarak tempuh Desa Madenan berada cukup jauh dari pusat Pemerintahan
Kecamatan, Kabupaten maupun Propensi yaitu   :
Ke Ibu kota Kecamatan :  8 km
Ke Ibu kota Kabupaten  : 36    km
Ke Ibu kota Propensi    : 80    km
Geografis Desa Madenan terletak didaerah pegunungan dengan luas wilayah 1.373 Ha, terletak pada ketinggian 400 – 700 meter dari permukaan air laut,  memiliki  topografi Wilayah berupa dataran tinggi dan perbukitan. Sedangkan suhu  udara rata - rata  pada Siang hari berkisar antara 28 - 32 derajat Celsius

BATAS – BATAS DESA MADENAN

Sebelah Utara           : Desa Bondalem dan Desa Tejakula
Sebelah Selatan       : Desa Dausa Kabupaten Bangli
Sebelah Timur  : Desa Kutuh Kabupaten Bangli
Sebelah Barat : Desa Sembiran dan Desa Satra.

JUMLAH BANJAR DINAS DAN NAMA BANJAR DINAS

Desa Madenan terdiri dari 5 Banjar Dinas yaitu  :

Banjar Dinas Keduran
Banjar Dinas Gentuh
Banjar Dinas Kelodan
Banjar Dinas Kajanan
Banjar Dinas Sangambu


Ya begitulah sejarahnya,..,
Penulis bersumber pada prasasti dan cerita dari tokoh masyarakat, benar tidaknya hanya Ida Bethara yang tau :D

http://mw2.google.com/mw-panoramio/photos/small/10237458.jpg
Perempatan Desa Madenan, diambil dari sudut barat laut.


Oke saya bercerita.

Desa Madenan bukanlah kampung halaman dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, tapi dari desa inilah asal usul orang tua dan leluhur saya.
Bapak sayalah yang lahir dan besar di desa Madenan. Tentu saya sering berkunjung ke kampung halaman kelahiran bapak saya ini.

Desa Madenan terletak di sebelah timur Kota Singaraja, tepatnya di Kecamatan Tejakula, salah satu Kecamatan yang masuk dalam daerah administrasi Kabupaten Buleleng,  mengenai jarak, ga tau persisnya, mungkin kurang lebih sekitar 30 km, menempuh waktu sekitar 45-60 menit waktu normal menuju kesana dari pusat kota Singaraja. (saya lahir dan besar di Kota Singaraja).
Untuk menuju desa Madenan, dari Kota Singaraja, bisa melalui jalur lalulintas jalan raya Singaraja - Karangasem, melewati 3 Kecamatan, dari Kecamatan Sawan, Kecamatan Kubutambahan, dan Terakhir Kecamatan Tejakula, melawati pesisir pantai utara Bali, termasuk obyek wisata Yeh Sanih di Kubutambahan, dan Pura Ponjok Batu.
Persis dipertigaan Bondalem, jalan raya Singaraja - Karangasem, menuju ke selatan, melewati jalan berliku dan tanjakan yang tajam, jalanini juga bisa digunakan untuk menuju arah kintamani dan menuju Tabanan ataupun Denpasar. Dari pertigaan tersebut, untuk menuju pusat desa ada sekitar 7 km.


Nah itu sekilas tentang gimana menuju desa Madenan dari Kota Singaraja, jangan nanya menuju Madenan dari daerah laen, saya ga tau :D


Lanjut lagi,.,.

Untuk membuat tulisan ini, saya iseng googling dengan keyword Desa Madenan, ternyata ada blog tentang Desa Madenan, keren, dan saya juga menemukan lambang desa, dan saya pajang diatas sebagai pembuka tulisan ini.
Saya malah tersenyum melihat lambang itu, tersenyum karena teringat masa kecil bermain di "arena", istilah "arena" digunakan untuk sebuah gedung serbaguna desa, masa kecil saat saya berlibur ke desa Madenan, saya sering bermain disana, disanalah terlihat lambang desa Madenan, dan saat melihat lambang itu sekarang, saya jadi tersenyum mengingat masa kecil dahulu. Dahulu arena tersebut sering digunakan sebagai tempat pementasan layar tancap, sudah lama sekali, sekarang sudah tidak pernah saya temukan disana.

Saat saya masi kecil, saya menemukan sebuah buku (lebih seperti makalah yang dijilid) tentang data-data Desa Madenan di rak buku milik Bapak. Dari sana saya baca beberapa data, cuman saya tidak hapal dan ingat tentang angka-angka disana, yang saya ingat tulisan sejarah dan data diatas mirip dengan di buku itu. 

Dari buku dan beberapa tulisan yang saya baca di google, selain berasan dari kata "Meadengan", desa Madenan berasal dari seorang patih Dalem Majapahit bergelar Ida I Dewa Madenan yang pernah berkunjung ke Desa Gunung Sari (nama desa sebelum menjadi Madenan). Ada versi lain juga, Madenan berasal dari sejarah desa Sukawana (sukawanabali.blogspot.com )dimana ada 4 bersudara, Tuanan, Madenan, Nyomanan dan Ketutan. Nah Madenan tinggal terpisah dengan ketiga saudaranya di suatu daerah yang sekarang dikenal dengan Desa Madenan.
Hehehe dan kembali saya bilang, ga tau mana yang benar, :D



Lanjut lagi..

Desa Madenan terletak di daerah perbukitan, yang malam hari udara sangat dingin (jaman dulu), sekarang saya merasakan tidak begitu dingin.
Mayoritas penduduk adalah bertani, peternak, dan pedagang. Seiring waktu dan jaman, seperti halnya pemuda-pemuda di daerah lain, sudah banyak warga desa Madenan merantau ke daerah lain maupun kota untuk menlajutkan hidup, salah satunya adalah Bapak saya yang dari muda sudah merantau ke Kota Singaraja.

Bicara mengenai pertanian, Madenan memiliki kontur tanah berbukit dan sulit air, lebih mengharapkan musim hujan untuk pengairan kebun, oleh karena itu tidak ditemukan persawahan di desa Madenan, cocok tanam lebih ke kebun.
Banyak hasil bumi yang dihasilkan, dari buah-buahan, sayur, dan rempah-rempah. Di sekitar tahun 80-an Desa Madenan merupakan salah satu desa yang terkenal akan penghasil jeruk (sumage.red), kakek saya merupakan salah satu petani penghasil jeruk saat itu.
Namun seiring waktu, produksi jeruk sudah hampir tidak ada di Desa Madenan, karena serangan penyakit. Sewaktu saya masi kecil, saya masi sempat menikmati bagaimana memetik buah jeruk di kebun yang berlimpah punya kakek. Nah saat ini hasil bumi yang paling berbobot adalah cengkeh, karena harga cengkeh yang cukup tinggi. Tapi karena kontur tanah yang berbeda antara Banjar Kajanan (selatan) dan Banjar kelodan (Utara), hanya banjar Kajanan yang menghasilkan lebih banyak cengkeh, kecenderungan kecocokan tanah yang membuat tanah lebih hidup tumbuh disana.

Di bidang peternakan, mayoritas penduduk beternak sapi, babi dan ayam. Namun saat ini, yang menjadi salah satu ciri khas Desa madenan adalah ayamnya, biasa disebut ayam betet, ayam yang diternak untuk dipersiapkan sebagai ayam petarung di "tajen". Pembeli ayam betet yang datang ke desa Madenan berasal dari berbagai penjuru daerah di Bali, hanya untuk mencari ayam betet dari Madenan. Hehehe.. segitunya ya :D
Namun kalo dipikir memang masuk akal, harga ayam betet cukup tinggi, satu ekor ayam bisa mencapai harga puluhan juta, dan logikanya lagi, mending pelihara ayam daripada sapi, :D
Saya pribadi tidak begitu pemerhati ayam, dalam hal tajen, tapi saya suka dengan kokokak ayam, melihara satu ayam kurangan dirumah akan membuat rumah tidak sepi, yah sebatas itu perhatian saya, tidak lebih..
Selain peternakan tersebut, desa Madenan merupakan salah satu desa dengan penyuplai burung punglor atau istilah lainnya Anis Merah walaupun tidak setenar daerah Pupuan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjStD6hEFbTAqOj8DbD7227m4MI4N4rchnKM2_7UgeLR1SyZli4hyphenhyphenz12sv9hFjUdhFUwyDYBK6WuNxoi5Mcsw5Of_lHrKlXjDkXIT0TNr_O_b4H98ssxU9-s1oAVKDxG54k76WkzQugZhoY/s1600/503905263.jpg 

Burung ini juga merupakan salah satu buruh favorit, dan harga juga cukup lumayan tinggi. Kalo d Bali, jenis burung ini lebih dikenal berasal dari Pupuan, tapi Madenan sarang burung banyak ditemukan. Namun saat ini, entah karena cuacu atau suhu yang berubah, sarang burung ini lebih sulit ditemukan, selain juga banyak orang yang mengambil tanpa ijin, mengingat harga burung ini yang cukup tinggi.

Suatu saat saya harus pelihara ayam betet dan punglor ini dirumah, masak orang asli Madenan ga punya,.,. Hehehe.. :D
Lanjut ke bidang perekonomian, jual beli atau perdagangan menjadi salah satu aspek utama roda perekonomian di desa Madenan, di desa Madenan terdapat satu pasar / 'peken' yang diadakan setiap 3 hari sekali / 'ngetelun' (info terakhir yang saya tau, mungkin sudah berubah :D)
Di sekitar tahun 90-an, geliat pasar Madenan cukup ramai, penduduk bisa menjual hasil bumi, ataupun ada yang membeli barang dari kota, dan dijual kembali di pasar ini, yang saya rasakan, warga selalu antusias setiap diadakannya pasar yang sudah ramai dikunjungi dari dini hari.
Namun saat ini, yang saya lihat pasar sudah mulai lesu, para pedagang sudah tidak mendapatkan hasil jualan  yang lumayan seperti dulu. Menurut nenek saya yang biasa berjualan di pasar, semenjak mudahnya transportasi ke kota, masyarakat sekarang cenderung langsung membeli kebutuhannya ke kota, selain itu, dalam memesan kebutuhan, sekarang lebih mudah, tinggal telpon, penjual akan membawakan langsung barang yang dipesan, misalnya seperti pakan ternak maupun pupuk.. 
Memang jaman sekarang serba praktis ya,.,. :D

Oh yang mengenai transportasi, sekarang penduduk sudah pada punya kendaraan sendiri, hidup sudah lebih mudah, waktu saya kecil, sekitar awal tahun 90-an, untuk menuju desa Madenan dari kota Singaraja, saya sekeluarga (Bapak Ibu dan adik) biasanya naik/sewa angkutan umum (biasa disebut kol/isuzu merah) jurusan Singaraja - Amlapura, turun di pertigaan Bondalem, perbatasan Bondalem Tejakula. Dari pertigaan tersebut, biasanya kami menumpangi mobil bak terbuka, kami akan baru naik apabila mobil tersebut sudah penuh, pernah juga saat penumpang mobil bak terbuka sudah sepi, disana ada pangkalan ojek, tentu sewa ojek lebih mahal jatuhnya. Jaman sekarang sudah mudah, setidaknya motor sudah rata2 pada punya, dan ojek pun sepi.
Satu hal yang saya lihat dengan mudahnya transportasi pribadi saat ini, saat odalan di Pura Bale Agung, jalanan yang sempit sekarang menjadi penuh dengan parkiran motor dan mobil masyarakat yang nangkil,  hal yang tidak saya lihat dijaman dulu ketika kendaraan pribadi masi merupakan suatu hal yang sedikit ditemui..

Tentang Pura..
(Yang saya tahu) ada 3 Pura di desa Madenan, yaitu Pura Kayangan Tigsa, Pura Bale Agung/Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem, ada juga pura satu lagi, saya lupa namanya, kalo ga salah Pura Yeh Nyah (maaf kalo salah, karena lupa) yang biasanya saat sebelum Nyepi, desa melakukan ritual mekiis. Seingat saya, saya baru pertama kali pernah nangkil ke Pura ini.
Saya tidak tau persis kapan jatuhnya odalan di Pura-Pura di desa Madenan, yang pasti dulu ketika saya masi SMA, saya rutin datang ke Madenan saat odalan-odalan di Pura Kahyangan Tiga. Setelah kuliah dan bekerja di Jakarta, saya sudah lama tidak pernah nangkil di Kahyangan Tiga, terakhir saya nangkil saat Galungan bulan maret 2013 awal Nopember kemaren, sudah lama rasanya saya tidak merasakan suasana sembahyang bersama di malam hari, dulu terasa sangat dingin di malam hari, sekarang biasa saja, ga terlalu dingin..
Sudah lama rasanya saya tidak menyaksikan langsung tarian-tarian sakral seperti baris dan rejang.. Saya sangat menikmati sekali suasana saat itu.. :) 

 Sebuah pelinggih di Pura Bale Agung
Gambar saya ambil saat Galungan bulan Maret 2013

Oh ya, diatas saya uraikan mengenai dadya yang ada di desa Madenan. Saya dan keluarga masuk ke dadya Pasek Taro, nyambung kan nama saya dan nama dadya saya, iya, TARO, nama sebuah desa di Gianyar yanga merupakan asal leluhur keluarga saya.
Dadya Pasek Taro merupakan dadya terkecil diantara dadya yang lain, kecil disini dalam artian memilik paling sedikit kepala keluarga, tepatnya memiliki 12 Kepala Keluarga, termasuk saya terakhir masuk dalam dadya karena sudah bekeluarga, harapan saya sih semoga anak cucu tetap tumbuh melanjutkan dadya Pasek Taro astungkara :)


Mengenai pendidikan
(Kembali lagi, setau saya), Desa Madenan memiliki 3 sekolah, satu SD (SD 1 dan SD 3 Madenan) dan satu SMP, (kalo tidak salah ) SMP 5 Tejakula. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMU, biasanya para pemuda desa Madenan melanjutkan ke Tejakula, Singaraja atau banhkan sampai ke Denpasar, dan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, biasanya ke Singaraja dan Denpasar. Seiring jaman, melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi sudah merupakan suatu hal yang wajib dijalani oleh pemuda di Indonesia secara umum, begitu juga dengan para pemuda di desa Madenan, sudah banyak yang bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik diploma ataupun sarjana. Nah mengenai minat jurusan, yang saya tangkap, kebayanyak (tidak semua) para pemuda lebih tertarik ke dunia pariwisata, kuliah di sekolah-sekolah pariwisata, untuk dapat melanjutkan karir dibidang pariwisata sebagaimana hal-nya Bali yang tergantung dari aspek pariwisata. Sudah banyak mungkin pemuda desa Madenan yang sudah berangkat ke luar negeri, ada yang di darat, ada yang di kapal pesiar.
Saya adalah satu yang memiliki minat untuk melanjutkan karir saya di bidang pariwasata, dengan melihat dari kesuksesan para pemuda yang telah bekerja ke kapal pesiar lebih dahulu, namun jalan hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki, saya pun mengikuti jejak orang tua sebagai PNS, dan ternyata saat ini adik saya lah yang terjun ke dunia pariwisata di sebuah perusahaan asing di kapal pesiar di Amerika, good luck brother :)





Mmmmm..... cerita tentang apa lagi ya..??
Memang banyak yang belum saya tau..
Saya adalah anak asli Madenan yang pulang ke Madenan hanya sesekali, jika ditanya "kenal sama bapak A, tau Bapak B..?" saya pasti geleng-geleng, karena saya memang tidak tau. Saya hanya bisa bertanya ke Bapak, siapa Bapak A siapa Bapak B.. Hehehe.. :D

Beruntunglah di Jakarta saya tidak sendirian, ada beberapa keluarga dari Madenan yang juga sudah merantau ke Jakarta dari jaman dulu, para pemuda di jaman itu, yang sudah mampu keliah ke Jawa dan bekerja di Jakarta, tidak seperti pemuda lain yang sekolah pun sulit dijaman itu.
Saya banyak mendengar cerita-cerita dari Om-Om di jakarta ini, seru rasanya mendengar logat-logat Madenan yang jarang saya dengar, dan terdengar kembali di Jakarta saat kami kumpul..
Iya.. "Ngare Engko.." Ciri khas bahasa Madenan.. :D



Sepertinya itu dulu yang biasa saya tulis tentang Desa Madenan, tentu isinya ngaco, kurang lengkap dan mungkn banyak yang salah, karena saya tulis sesuai dengan apa yang ada di kepala saya saja.
Dan mohon maaf tulisan ini tidak dilengkapi beberapa gambar, suatu saat nanti saya coba update kembali.

Saya harap ada orang Madenan yang membaca tulisan yang saya ungkapkan disini dan membantu melengkapi tulisan saya yang ngaco ini :D

Akhir kata,

Terima kasih, salam :)