Pages

Monday, September 9, 2013

Tirta Yatra ke Pura Kahyangan Jagat Penataran Agung Ped / Pura Dalem Ped Nusa Penida

(Sumber gambar saya ambil dari Google)



Hai sobat bloger :)

Setelah sebelumnya saya bercerita tentang pengalaman saya Tirta Yatra ke Pura Segara Giri Dharma Kencana di Pulau Menjangan,kali ini saya kembali ingin sharing pengalaman saya Tirta Yatra ke salah satu Pura yang sering dikunjungi oleh pemedek yang terletak di Pulau Penida atau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

 (Sumber gambar saya ambil dari  Google )

Sebelum saya bercerita lebih lanjut mengenai perjalanan sembahyang ini, ada baiknya saya gambarkan sedikit mengenai sejarah Pura ini, saya sebenarnya sebelum tangkil ke pura ini, saya belum tau persis tentang sejarahnya, saya baru searching² di google sekembalinya dari sembahyang, saya menemukan beberapa website dan blog sebagai sumber informasi sejarah Pura ini.

Berikut sumber yang saya ambil dari website : http://www.polresklungkung.org/

Pura Dalem Ped lengkapnya bernama Pura Penataran Agung Ped (kata Ped sering  ditulis dan diucapkan Peed). Tapi pura ini sering disebut Pura Dalem Peed. Letak pura ini di Desa Peed, Sampaian, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Untuk menuju pura ini, umat harus menyeberang laut sekitar 30 menit dari Pelabuhan Padangbai. Bisa juga dari Pantai Sanur, Denpasar, namun perjalanannya tentu lebih lama.

Karena pengaruhnya yang sangat luas, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat. Pura ini selalu dipadati pemedek untuk memohon kerahayuan. Bagaimana sejarah pura ini? Pura ini menyimpan banyak cerita menarik, bahkan sedikit berbau "seram". 

Pura Dalem Penataran Ped merupakan tempat memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Menurut Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa.

Ada cerita menarik dari pura ini. Dalam Lontar Ratu Nusa dicerilakan Bhatara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohani dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jarnbu Dwipa, Kompyang, Dukuh Jumpungan. Dukuh Jumpungan itu lahir dari perlemuan Bhatara Guru dengan Ni Mrenggi, Dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut "limun". Karena itu disebut Hyang Kalimunan.

Kama Bhatara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murii dan menjadi manusia. Setelah diajar berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian oleh Hyang Tri Murti, beliau diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal sebagai I Mecaling. Menurut Wiana, inilah yang selanjutnya disebut Ratu Cede Nusa.

Ratu Cede Nusa ini berpenampilan sepetti Bhatara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (aim) dari Geria Tainan, Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian sejarah pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan: Saat Bhatara di Gunung Agung, Batu Karu dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali, beliau diiringi oleh 1.500 makhluk halus (wong samar). Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Cede Nusa atas waranugraha Bhatara di Gunung Agung. Bhatara di Gunung Agung memberi waranugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa bratanya yang keras. Atas tapa brata itulah Bhatara di Gunung Agung memberi anugerah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan ajaran agama vang dianutnya.

Di Pura Dalem Penata.an Ped ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi. Dengan demikian, Pura Dalem Penataran Ped itu merupakan pemujaan Siwa Durgha dan pemujaan raja disebut Pura Dalem. Mengapa disebut sebagai Pura Penataran Ped, tiada lain karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi, pemujaan Bhatari Uma Durgha.

Artinya, Pura Penataran Ped ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi. Di pura inilah betemunya unsur Purusa dari Bhatara di Gunung Agung dengan Bhatari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut rambut sedana.

Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyipenan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Ped ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mcndampingi raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung. Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan bahwa Dalem Klungkung melakukan upaya menyatukan Nusa dengan Bali.


Nah diatas sedikit gambaran tentang sejarah Pura Dalem Ped.
Yang tergambar disana, pura ini serasa seram bahkan angker, atau istilahnya "Pingit", bagaimana tidak, diceritakan disana banyak wong sama,. Hehehe,.,.

Tapi karena saya niatnya hanya sembahyang nunas keselamatan, tidak ada keseraman apapun yang saya liat, dan memang karena saya juga tidak ada mata bathin untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata, jadi ya saya sembahyang seperti halnya sembahyang di Pura-pura yang lainnya..

Nah di sejarah diatas juga disebutkan mengenai Bhatara yang melinggih di Pura Dalem Ped, yaiut Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling, yang digambarkan (atau maaf, tabik kulun,) berwujud rangda, wujud yang dikenal masyarakat menyeramkan dengan taring panjang dan rambut rambut dan kuku² panjang, kurang lebih wujudnya seperti dibawah ini : (Benar tidaknya saya tidak tau, karena saya belum pernah melihat,,.,. Hehehehe,.., )

    (Sumber gambar saya ambil dari devianart )  

Saya juga sempat googling mencari² informasi mengenai Ida Bhatara Ratu Gede Mecaling, dan saya nemu tulisan dari : http://www.dharmagiriutama.org

Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim, lahirlah dua orang anak, satu laki-laki, yang satunya adalah perempuan. Yang laki-laki bernama I Gede Mecaling dan yang perempuan di beri nama Ni Tole, dan Ni Tole kemudian menjadi permaisuri Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa Penida. Sedang I Gede Mecaling mempunyai seorang istri yang bernama Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.

I Gede Mecaling sangat senang melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped, pengastawaanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ciwa dan karena ketekunannya Ida Bhatara Ciwa berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan berupa Kanda Sanga. Kemudian, setelah mendapat panugrahan kanda sanga phisik I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya. Sedemikian hebat dan sangat menyeramkan, maka seketika itu juga jagat raya menjadi guncang. Kegaduhan, ketakutan, kengerian yang disebabkan oleh rupa, bentuk dan suara yang meraung-raung siang dan malam dari I Gede Mecaling membuat gempar di mercapada.
Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi bingung karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesaktian I Gede Mecaling. Bahkan sesungguhnya para dewa tidak ada yang bisa menandingi, tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang telah dianugrahkan oleh Ida Bhatara Ciwa. Akhirnya turunlah Ida Bhatara Indra untuk berusaha memotong taring I Gede Mecaling. Setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong barulah I Gede Mecaling berhenti menggemparkan jagat raya. Setelah itu I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadhi, pengastawanya di tujukan kepada Ida Bhatara Rudra dan Ida Bhatara Rudra pun berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panca taksu, yaitu:

1. Taksu balian,
2. Taksu penolak grubug,
3. Taksu kemeranan,
4. Taksu kesaktian,
5. Taksu penggeger.

I Gede Mecaling menjadi raja setelah Dalem Sawang wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Dengan demikian I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. Juga pada akhirnya I Gede Mecaling diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga Dewi untuk mencabut nyawa manusia yang ada di bumi.

I Gede Mecaling juga di berikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar I Gede Mecaling yang diberikan oleh Ibu Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Mecaling moksha di Ped dan istrinya moksha di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa di bumi Nusa Penida dan mendapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada Beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. 


Diatas dijelaskan, kesaktian Ida Ratu Gede, dan menjadi penguasa di Nusa Penida, dan Beliau moksa disana, sehingga melinggih di Pura Dalem Ped.





-----------------------------------  



Baiklah, setelah sejarah sudah saya tuliskan diatas (tepatnya saya kopas dari sumber diatas :D ), sekarang saya berbagi pengalaman sembahyang saya bersama beberapa keluarga. Tenang, yang saya alami ga ada serem²nya,.,. Hahaha.,,. :D


Awal ketertarikan saya untuk nangkil kepura ini sebenarnya sudah dari dulu, diawali cerita teman yang sudah nangkil duluan di tahun 2008. Ditambah lagi, paman saya, (saya lebih akrab manggil Om Tut) yang sering meneceritakan pura ini, maka menambah ketertarikan saya untuk nangkil. Di tahun 2011 saya pernah diajak teman² dari kaskus untuk nangkil bersama, tapi karena keterbatasan waktu saya di Bali, maka saya tidak sempat ikut.
Dan akhirnya di bulan Juni 2013 saya pun kesampaian untuk nangkil ke Pura Dalem Ped. (Tentu dengan nyiapin bekal uang juga, walopun tidak banyak, Hehehe,.,. )   

Rombongan kami terdiri dari enam orang, saya, istri saya, Om Tut, dan tiga orang rekan Om Tut.
Kami berangkat dari Singaraja dari jam setengah 7 pagi, karena mengejar kapal roro yang diberangkatkan hanya sekali dari pelabuhan Padangbai, mengingat jarak Singaraja menuju Padangbai cukup jauh.
Perjalanan kami ambil melalui bedugul, kami sempat berhenti sebentar maturan di sebuah Pura di Pundak Bedugul, sayang sekali saya lupa catat nama Pura tersebut, padahal sering saya lewati, (dongdong banget,.,. :( ) Kalo ga salah mungkin Pura itu bernama Pura Puncak Mangu (Maaf kalo salah). Disana kami sembahyang matur piuning untuk nangkil ke Pura Dalem Ped agar diberikan keselamatan dalam perjalanan. Kami hanya sembahyang di luar saja, tidak sampai naek ke Jeroan. 
Pagi² udara disana dingin boooo.,,.., :D




Setelah sembahyang sebentar, kami lanjutkan perjalanan, ke arah selatan, tidak jauh dari Pura tadi, kami kembali singgah sebentar di sebuah Pura, nama lengkap Puranya (kembali) saya lupa juga..Zzzz.. Kalo tidak salah, Pura Penyawangan Dalem Ped. Jadi disekitar Pura tersebut banyak masyarakat yang berasal dari Nusa Penida, karena Nusa Penida jauh, makanya didirakan Pura penyawangan Dalem Ped, jika tidak bisa nangkil ke Pura Dalem Ped di Nusa Penida. Posisi Pura ini dekat dengan Lapangan Golf Bali Handara, ada di seberang jalan arah barat, masuk gang sedikit.
Kami disana juga sembahyang lama dan tidak sampe masuk ke jeroan, hanya diluar saja, matur piuning dan nunas keselamatan.
(Lupa mengabadikan Puranya,.,. :D )

Kami lanjut perjalanan lagi menuju Padangbai, karena niat singgah sebentar ke Denpasar, kerumah Istri, dari Denpasar kami melalui jalan By Pass I.B. Mantra, sampai Klungkung, dan menuju Karangasem dan ke Padangbai. Sempat melewai Pura Goa Lawah, yang kebetulan saat itu ramai juga, kalo tidak salah ada piodalan.

Kami sampai di Padangbai sekitar pukul 1.30 sore, dan sedikit kecewa karena mendapat informasi kapal roro sudah penuh untuk menyeberangkan mobil. Kami pun mencari informasi untuk dapat menggunakan transportasi di Nusa Penida nanti. Dan Istri ada kenalan yang menyewakan motor. Ya sudahlah,..
Kami tidak jadi menaiki kapal roro, karena kapal tersebut baru jalan sekitar jam 3, kelamaan nunggunya, akhirnya kami memutuskan menyewa Boat, memang lebih mahal daripada naik kapal roro.
Kami menyewa Boat dengan harga 400.000 untuk berenam, tapi langsung jalan, bersama kami juga ada rombongan lain yang ikut dalam satu kapal boat, mungkin ada 3 orang, dan kamipun berangkat.

Gelombang cukup besar, seru.,., :D Kami sampai dipelabuhan kecil di Nusa Penida sekitar 30 menit. 
Mejeng dikit bole dunk,.,. :D


Oh ya, saya dari denpasar masi berpakaian kaya turis asing, masi pake kaos ma celana pendek, Hahahaha,.,.,. Rencana baru ganti di toilet dekat pura sana,,.,. hahaha,.., parah yak,.,. :D


Okeh lanjut lagi.,,.
Sesampai di pelabuhan, istri menghubungi kenalannya disana untuk menyewa motor, kami butuh 3 motor, karena berenam, sewa satu motor 50.000, mungkin lebih murah kalo kita sewa mobil palungan disana, ya cuman gitu, kita kaya turis beneran yang kaya mau liburan diving,.,. Hahaha,.,. Oh ya jenis motornya matic, kaya scoopy dan vario.,,. agak rempong sih, karena kita bawa ransel, ma membawa beberapa banten pejati dan sokkasi bertas krerk warna merah,., Hahaha.,.,

   
Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Nusa Penida, saya kira daerah ini kaya kampung, tapi setelah melewati jalannya, fasilitas sudah bisa dibilang lengkap, pasar, pertokoan, bank.dan beberapa kantor, seru juga :D
Sambil gandeng istri, dia cerita tentang pengalamannya dulu pernah bertugas disana,.,. saya cuma iya-iya saja, namanya juga pertama kali kesana :D
Saya masi bingung jalannya kearah mana, entah timur atau barat, yang pasti kami mengawali rencana perjalanan ini ke Pura Goa Giri Putri terlebih dahulu, yaitu dari keluar pelabuhan, kami menuju jalan ke arah kiri. Karena saya tidak tau jalan, saya pun hanya ngekor ngikut dari belakang. Oh ya kebetulan dari berenam, hanya saya dan Om Tut yang belum pernah kesana, tapi Om Tut sudah seperti tau banyak akan Pura ini.,,. Saya percaya-percaya aja :D
Sumpah naek motor pake celana pendek, baju kaos, kaca mata hitam, kaya turis mau diving.,,. Hahaha,.,.

Sepanjang jalan, aspal tidak begitu mulus, harus menggunakan keahlian khusus dalam menghindari lobang.,,.,. Hahahayyy lebay.,.. :D 
Kata istri hati² kalo ditikungan, karena orang² disana bawa motornya ngebut kaya Rossi :D
Disepanjang perjalanan saya lihat kendaraan yang lalu lalang adalah mobil palungan/pickup beratap, yang menjadi pilihan rombongan pemedek yang tangkil kepura.
Udara panas terasa, dan pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah, hamparan laut biru yang luas, dengan perkebunan rumput laut dipinggir pantai, tentu saja saya tidak bisa menikmati pemandangan tersebut dengan leluasa, saya harus bawa motor dengan konsentrasi tinggi, belum lagi takut ditinggal ma 2 motor di depan yang ngebut banget :D, apalagi moto², mana sempet,.., Hahaha,.,.
Saya ga begitu tau persis jarak dari pelabuhan  menuju pura Goa Giri Putri, waktu tempuh juga saya ga ngeh berapa lama, kalo tidak salah kira² 15 menit lah.

Sesampai di depan Pura Goa Giri Putri, kami sewa kamar mandi dulu, mandi gerah, muka isinya kaya garam semua, asin,.,. Haha.., Tentu kami juga sekalian ganti pakaian adat, masa iya pake kaos oblong ma celana pendek nangkil,.,. Hihi,..


Kami parkir motor didekat toko, kami juga menitipkan tas kami di dekat sana, aman.,,. !!
Dari pinggir jalan, sudah meilihat banyak kendaraan parkir, tentu dipenuhi oleh mobil² palungan, banyak yang nangkil bersama kami saat itu, tapi tidak sampai bejubel,.,. Dari sana kami menaiki beberapa anak tangga menuju atas, sumpah saya ga itung jumlah anak tangganya berapa, boro² itung, naek kesana aja napas saya sudah tersengal², parah.,,. Hahaha.., maklum perokok kelas bulu menuju kelas berat, ditambah udara yang panas,.,. :D

Kami narsis²an bentar diatas sambil menunggu giliran muspa dari rombongan pemedek sebelumnya.

(Bersama istri tercitaahhhhh,.,.,. )   

(Lanskep diatas)

 (Tangga terakhir menuju tempat sembahyang )

Kami pun memulai sembahyang bersama, untuk mepiuning tangkin ke pelinggih² di dalam Goa, Tempat sembahyang ini masi dalam posisi diluar Goa, bisa dibilang mulut Goa. Dari yang saya lihat petunjuknya, tempat sembahyang pertama kami ini adalah "Linggih Ida Hyang Tri Purusa lan Ganapati" Ganapati menunjukkan wasta/nama dari Ida Ganesha, karena didekat bibir goa, terdapat linggih/patung ganesha, yang berukuran tidak terlalu besar.
Awalnya saya tidak tau dimana posisi bibir Goa, saya kira setelah sembahyang disana kami akan turun tangga lagi, ternyata tidak, saya hanya bengong melihat, yang sembahyang sebelumnya tadi keluar lewat mana, kok tadi banyak pada hilang ga melalui pintu masuk tadi,.,.
Ternyata disebelah kiri, dekat linggih Ganapati, dibawah ada lubang kecil yang berukuran hanya cukup satu badan orang dewasa.
Konon segede apapun badan orang yang akan masuk kesana, tetap akan bisa masuk, kebetulan kami berenam tidak ada yang berbadan besar :D
Oh ya, diatas bibir goa, terdapat penjelasan nama² pelinggih dan urutan persembahyangan yang akan kami tempuh di dalam goa nanti.

 
Sambil menunggu antre masuk satu² menuju goa, saya eksis dulu, kali ini sama Om Tut :D
   
Setelah rombongan lain sudah masuk, kami pun bergantian memasuki lubang Goa, memang terkesan sempit, tapi cukup, saya memasuki pertama kali, watch out, kepala jangan sampai kejedut :D
Lubang sempit tersebut tidak terlalu jauh, hanya beberapa langkah saja, (maaf lagi,  saya ga ngitung lagi berapa langkah, hehe,.,. ) sampai saya menapakkan kaki disebuah jalur jalan yang sudah dihiasi dengan batu sikat yang indah..

Sayang saya tidak mengabadikan lubang goa, tapi saya ambil dari google aja deh untuk gambarannya. :D

(Sumber gambar saya ambil dari Google )

*Sebelumnya saya ingin jelaskan sedikit foto² saya, gambar yang saya tangkap dari HP saya terlihat gelap, saya akan menambahkan beberapa foto yang saya ambil dari Google untuk lebih memperjelas deskripsi cerita saya.

Okeh,.,. saya lanjut cerita lagi,.,.


Sesaat setelah melewai lubang kecil tadi, saya lalu melihat ruang goa yang sangat luas, benar² tempat yang menakjubkan.,. Dibilang gelap, memang gelap, tapi saat ini didalam goa sudah dilengkapip beberapa lampu sebagai penerang, dan saya juga melihat beberapa kipas penghisap udara, sehingga didalam tidak pengap, karena sejauh mata memandang, didalam goa penuh dengan asap dupa.
Namun sayang, ada saja kelakuan pemedek yang tidak mau menjaga kebersihan tempat suci, saya sempat emlihat beberapa sampah bekas botol minuman mineral yang dibuang sembarangan.. :(
Menurut salah satu rekan Om Tut, waktu dia dulu nagkil kesini, keadaan dalam goa masi asli, benar² gelap belum ada penerang selengkap sekarang, apalagi pipa² penyedot udara, dan licin, belum ada jalan setapak dengan batu sikat.. Didalam goa sepanjang jalan setapak memang licin jika tidak diisi batu sikat, karena lantai selalu basah oleh air. 


Kami lanjut melakukan tempat persembahyangan kedua, yaitu Linggih Ida Hyang Wisnu lan Wasuki


Saya mengambil foto tidak menggunakan flash, takut mengganggu, jadi seadanya saja,.,. :D

Di pelinggih kedua ini, kami menghadap kearah lubang tempat kami masuk tadi, bersama beberapa pemedek yang lain, kami sembahyang dipimpin oleh seorang Jro Mangku..

Kami melanjutkan ke Pelinggih ketiga, yaitu Linggih Ida Hyang Dewi Gangga
Sebelum mencapai pelinggih ketiga, kami melewai jalan yang dengan batu sikat, yang berjarak tidak begitu jauh, kurang lebih 50 meter.. sepanjang jalan ini saya melihat beberapa batu besar yang telah dikelilingi wastra dan terdapat tempat untuk menghaturkan canang..

 
Kami lanjut ke Pelinggih Ida Hyang Dewi Gangga,  Disini kami tidak melakukan persembahyang seperti sebelumnya, melainkan kami dengan beberapa pemedek lain melukat atau melakukan pembersihan. Terdapat patung Dewi Gangga, dengan 2 gentong besar yang berisi air untuk kami melukat.
Dari cerita Bapak saya sebelumnya yang pernah nangkil disini, biasanya saat melukat disini ada saja yang kerauhan, entahlah karena apa.,. Dan memang benar, saat saya menunggu giliran melukat, ada seorang ibu² yang kerauhan, rasanya merinding juga,.,. Hehe,., :D

Oh ya sedikit tips, kalo hendak mekemit, mending bawa baju ganti, karena saat melukat disini semua pakaian basah :D
 

  


Setelah melukat kami melanjutkan persembahyangan ke pelinggih selanjutnya, yaitu di Linggih Ida Hyang Giri Pati , posisinya persis didepan Linggih Dewi Gangga..





Setelah sembahyang disana, kami lanjutkan ke Linggih Ida Hyang Giri Putri lan Payogan Ida

Posisi pelingging ini juga ga jauh, berada disebelah Linggih Dewi Gangga, tapi posisi keatas, menaiki beberapa anak tangga,.,. Hati² disini, bukan karena seram, tapi jalan licin :D



Kami sembahyang di dalam atas seperti biasa.. dipimpin oleh seorang Jro Mangku..

 




Setelah  selesai maturan disini, kami lanjut ke pelinngih terakhir, kami berjalan menuju kedalam, beberapa meter, dan baru terlihat ada cahaya, Pelinggih Ida Hyang Siwa Amerta, Rambut Sedana, Melanting Ratu Syahbandar, Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewa Bumi berada di paling ujung Goa. Dari nama pelinggihnya, sudah tertebak ada nuansa Budha. Mungkin bisa dibilang Pelinggih Siwa Budha. Mendekati areal pelinggih, sayup sayup terdengar alunan musik china, entahlah apa namanya, biasanya terdengar seperti kalo kita masuk ke Klenteng².
Pelinggih bernuansa warna merah.,,. dan terdapat beberapa lilin dan lampion, ciri khas Budha.
Kami bersembahyang seperti biasa, dan dari sini kami diberkahi gelang tridatu.



Setelah mepamit, kami keluar goa menuruni jalan setapak dan berjalan mengitari perbukitan (goa) menuju tempat awal kami menitipkan barang² dan sepeda motor.


Jauh dulu teman pernah cerita akan pura ini, awalnya saya kira pura yang ada Goanya ini adalah Pura Dalem Ped, tapi ternyata beda tempat, yang dimaksud teman daalah Pura Goa Giri Putri ini..
Dan saya sudah menyaksikan sendiri kemegahannya :)


Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 5 sore, saya dan istri istirahat sebentar untuk makan, Om Tut dan rekannya yang lain kebetulan sedang menjalani puasa, jadi tidak ikut makan.
Kami pun berbalik arah menuju jalan pelabuhan tadi, menuju ke Pura Dalem Ped..,,.

Dari pelabuhan jarak tidak begitu jauh, tidak sejauh munuju Pura Goa Giri Putri tadi, sekitar 5 menit kami sudah sampai, ternyata disana pemedek sudah ramai, banyak mobil² palungan menurunkan pemedek.

Bangunan pura beserta penyengkernya didominasi oleh warna putih..
Kami menuju Bale gede, (ga tau apa benar Bale gede istilahnya :D) Disana kami nyari spot untuk istirahat malam hari, disana sudah ada beberapa tikar yang dapat kami gunakan sebagai alas, disana juga sudah banyak pemedek yang istirahat. Kami hanya menaruh bawaan saja, dan lanjut melakukan persembahyangan. 


Pertama kami menuju pantai dulu untuk melukat..
Dipinggir pantai kami masi melihat hamparan budidaya rumput laut..




Tak lama melukat di pantai, kami menuju ke Pura Segara, saya ga sempat mengabadikan pelinggih di Pura Segara,.,. :D

    (Sumber gambar saya ambil dari Google)

Setelah itu kami melanjutkan persembahyangan ke Pura Taman, yang berjarak tidak jauh dari Pura Segara

  
Setelah sembahyang di Pura Taman, waktu sudah menunjukkan pukul 5.30, kami menunggu jam 6 untuk bersembahyang di Pura Ratu Gede, Sebelumnya kami membersihkan diri sejenak, kebetulan di dekat pura terdapat pemandian umum yang dapat kita pergunakan, (dengan punia tentunya :D )

Pukul 6 lebih, kami bersama² melanjutkan persembahyangan di Pura Ratu Gede.
Pura didominasi oleh kain poleng, dengan alas yang sudah dihiasi batu sikat. Kalo tidak salah saya ingat, ada 3 pelinggih di depan.
Kami melakukan persembahyangan bersama².
Saya pribadi sembahyang seperti biasa, walaupun sebenarnya menurut Om Tut, banyak fonemena spritual yang terjadi dijeroan, tapi karena saya tidak bisa merasakan apa², ya saya sembahyang seperti biasa saja :D



  

  


Saya tidak sempat (tepatnya ga berani) jeprat jepret kamera di jeroan,.,. Hehehe,.,. Hanya sempat jepret saat masi diluar saat akan menyiapkan banten saja,.,.

Kurang lebih penampakan jeroan seperti ini..

(Sumber gambar saya ambil dari Google )

Setelah melakukan persembahyangan di Pura Ratu Gede, kami melanjutkan persembahyangan di Pura Penataran Agung, juga tidak berjarak begitu jauh dari Pura Ratu Gede..


  

Kebetulan malam itu adalah sehari sebelum purnama, sedikit penampakan bulan diatas pelinggih di Pura Penataran Agung.


Setelah melakukan persembayangan tersebut, kami kembali ke Bale Gede, dan kami makan malam. Di depan Pura ada beberapa warung makan yang bisa kita singgahi untuk makan atau sekedar ngopi, disana juga dijual jirigen kecil / tempat air yang bisa kita gunakan untuk nunas tirta.

Kami tidak tidur dulu, hanya ngobrol² di Bale Gede, menunggu pukul 12 untuk kembali bersembahyang bersama di Pura Ratu Gede.
Saat ngobrol², kami perhatikan, Pura makin banyak dikunjungi para pemedek, sampai Bale Gede Penuh, malah ada yang tidur² di halaman Pura, untunglah malam itu tidak ada hujan,.,. Kalo hujan bisa sambragh like diamond,.., Hahahaha,.,. :D   

Singkat cerita waktu sudah mendekati pukul 12 malam, tengah malam.. Kami bergegas menuju Pura Ratu Gede untuk melakukan persembahyangan. Saat itu terlihat ada satu pemedek yang kerauhan, tidak jelas yang raosannya apa,.,. saya cuma bengong :D

Persembahyangan berjalan seperti biasa, kembali saya tidak merasakan apa², hanya sembahyang sebagimana sembahyang seperti biasa, nunas kesehatan dan keselamatan :)

Setelelah sembahyang, kami kembali ke Bale Gede, dan ternyata sodara², satu dari dua tikeh kami berpindah tempat,..,,. Ada pemedek lain yang make.,,. Wakakakaka,.,.
Ya sutra lah, satu  tikeh kami gunakan berenak Hahaha.,,.
Tips lah buat temen² kalo mau mekemit di Pura Dalem Ped, kalo memungkinkan bawa mobil, bawalah tiker sendiri ato karpet, biar ga beralaskan keramik,.., Hihihi.,.,

Karena malem² ngobrol, kami lepr lagi,.., Kami pun makan lungsuran yang ada, be siap sambel see pas basang seduk itu sesuatu yak,..,,. Hahaha,.,.

Dan apalagi setelah makan, mata jadi ngantuk, Paaaassss,.,.., dengan keadaan tidur tidak biasa, saya pun tertidur terlelap.,,.


Zzzzzz....


"Rik bangun,.,.,."


Eh saya kepupungan, Om Tut bangunin sekitar pukul 3 pagi,.,.
Banyak pemedek uda repot rapi²in barang, Om Tut ngajak kami sembahyang terakhir untuk mepamit di Pura Ratu Gede,.,.


Eh lagi,.,.,. 
Saya bukannya bangun malah lanjut tidur lagi.,.,. Zzzz..

Dan Jam 5 saya terbangun lagi, Om Tut dan rekan²nya saya telp sedang ngopi di warung karena mereka sudah selesai sembahyang,.,. Dan saya pun sembhayang terakhir bersama istri ke Pura Ratu Gede untuk mepamit,..,

Setelah itu kami bersiap² kembali lagi, banyak pemedek juga sudah kembali di pagi² buta, karena saya lihat pemedek berangsur² berkurang...

Yak.,., kami kembali mengendari motor untuk kembali ke pelabuhan,..

Samapi di Pelabuhan, kami mencari boat yang bisa kami tumpangi, kali ini lebih mudah, karena banyak pemedek yang kembali, jadi kami ga perlu sewa satu boat, cukup 18,000 perorang, kami bisa naek boat, cuma ya nunggu kuota boatnya penuh,.,.


Nunggu sekitar sejam, sambil sarapan makan tipat, kami pun berangkat kembali menuju Padangbai.,,..,




Seru,.,.,. Hehehe,.,., Pengalaman pertama nangkil ke Pura Goa Giri Putri dan Pura Dalem Ped,.,.


Semoga cerita saya ini bisa menjadi magnet buat teman² yang belum pernah nangkil ke Pura Dalem Ped,.,.


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam menyampaikan cerita, sesungguhnya saya bukan seorang penulis beneran,.., Hahaha,.,.,.


Suksma,.,. :)



Baca  juga :

 

2 comments: